Jakarta, derapjurnalis.com —
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) melakukan pertemuan strategis dengan Ketua MPR RI Bapak Ahmad Muzani di Gedung Nusantara III, Kompleks MPR–DPR RI, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas persiapan Peringatan Hari Kartini 2026 serta penguatan kerja sama antara KOWANI dan MPR RI dalam rangka menyongsong 100 Tahun KOWANI.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum KOWANI Nannie Hadi Tjahjanto hadir didampingi oleh Jajaran Tokoh Perempuan Nasional, yakni Meilani Suharli, Pia Megananda Ketum Wirawati Catur Panca, Hanifah, Jamilah Abdul Gani FORHATI, Judith, Lina Budiarti Ketum PIVERI, Triana Wulandari, Atiek Sarjana, Ratu Dian Hatifah, Etty Praktiknyowati dan Nani Ludiana sebagai bentuk soliditas kepemimpinan perempuan dalam memperkuat agenda kebangsaan KOWANI. Juga berhadir Triana Wulandari Ketum CLN (Cahaya Ladara Nusantara).
Ketum KOWANI menegaskan, peringatan Hari Kartini 2026 akan dirancang sebagai Momentum Nasional untuk menegaskan kembali peran strategis perempuan Indonesia dalam pembangunan bangsa sekaligus sebagai bagian dari rangkaian menuju satu abad KOWANI pada tahun 2028. “Hari Kartini 2026 harus menjadi panggilan kebangsaan bagi seluruh Perempuan Indonesia untuk memperkuat kontribusi nyata dalam pembangunan. Ini bukan sekadar peringatan simbolik, tetapi gerakan nasional menuju satu abad KOWANI yang berdampak dan berkelanjutan,” tegas Ketum KOWANI.
Ketum KOWANI juga menekankan komitmen organisasinya untuk menjalankan dan memperluas implementasi 4 Pilar Kebangsaan — Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada seluruh anggota 119 organisasi perempuan yang ada di KOWANI, BKOW, dan GOW di seluruh Indonesia. “KOWANI memiliki tanggung jawab sejarah untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus. Melalui pengamalan 4 Pilar Kebangsaan, kami ingin menanamkan nasionalisme yavhng kokoh agar generasi muda perempuan Indonesia tumbuh membawa wibawa dan marwah bangsa,” ujar Ketum KOWANI.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyambut baik inisiatif tersebut dan menegaskan pentingnya sinergi antara KOWANI dan MPR RI sebagai bagian dari perjalanan panjang sejarah kebangsaan Indonesia dengan ilustrasi historis bahwa kolaborasi lintas elemen bangsa, termasuk perempuan, telah menjadi fondasi kuat sejak awal berdirinya Indonesia.
Muzani menjelaskan, semangat persatuan yang kemudian melahirkan gerakan perempuan Indonesia bersumber dari perjuangan Muhammad Yamin dan Soetomo Tabrani, dua tokoh muda yang menjadi pelopor gagasan tentang satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa: Indonesia.
Ketua MPR RI Kembali menegaskan, sikap simbol keteguhan Nasionalisme dan kedaulatan harga diri Bangsa ada pada keteguhan Pangeran Diponegoro yang mengajarkan kepada kita bahwa kehormatan bangsa tidak dapat dibeli. Nasionalisme bukan slogan, tetapi sikap hidup,” demikian pesan kebangsaan yang disampaikan. Kisah ini menjadi refleksi penting bagi seluruh elemen bangsa, termasuk gerakan perempuan Indonesia, bahwa membangun Indonesia bukan sekadar kerja fisik dan ekonomi, melainkan perjuangan menjaga martabat, identitas, dan kehormatan Bangsa.
“Sejarah Bangsa ini dibangun melalui sinergi yang panjang. Tahun 1925–1926 para pemuda dari Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon dan berbagai organisasi kepemudaan lainnya telah menggagas persatuan melalui bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tak lama kemudian, tahun 1928, lahirlah Kongres Perempuan Indonesia sebagai tonggak kebangkitan peran perempuan dalam perjuangan nasional. KOWANI hari ini adalah kelanjutan dari sejarah besar itu,” tutur Ahmad Muzani.
Dari pemikiran dan gerakan Anak-anak Muda inilah lahir kesadaran kolektif bangsa yang kemudian berpuncak pada Sumpah Pemuda 1928. Tidak lama berselang, semangat persatuan itu mengalir kuat ke dalam gerakan perempuan dan melahirkan Kongres Perempuan Indonesia 1928, yang menjadi fondasi ideologis dan organisatoris bagi berdirinya KOWANI.
“KOWANI lahir dari rahim perjuangan anak-anak muda yang bermimpi tentang Indonesia merdeka,” demikian pesan kebangsaan yang disampaikan. Maka sudah sepantasnya KOWANI membumikan Kembali semangat generasi muda sebagai kekuatan yang dibangun oleh idealisme, keberanian, kecintaan mendalam pada tanah air yang bahwa sejarah ini menegaskan KOWANI bukan hanya organisasi perempuan, melainkan bagian utuh dari arsitektur kebangsaan Indonesia.
Ketua MPR RI juga menekankan dalam menyongsong satu abad KOWANI, organisasi perempuan terbesar di Indonesia tersebut harus tampil sebagai mitra strategis negara melalui program-program yang terukur, sistematis, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
“Saya berharap KOWANI memperjuangkan program-programnya secara terukur dan konkret agar semakin kuat posisinya sebagai mitra strategis pemerintahan dalam pembangunan bangsa,” tutur Muzani.
Pertemuan ini menandai komitmen bersama antara KOWANI dan MPR RI untuk memperkuat kerja sama kelembagaan, khususnya dalam penguatan peran perempuan Indonesia di bidang kebangsaan, pendidikan politik, kepemimpinan perempuan, serta penguatan nilai-nilai Pancasila dan Konstitusi. "Sinergi ini diharapkan menjadi fondasi kokoh dalam perjalanan KOWANI menuju 100 tahun pengabdian bagi bangsa dan negara, sekaligus memperkuat kontribusi perempuan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045," Pungkas Nannie*****



