Hasdi Suryadi : "Ramadhan Sebagai Sarana Tazkiyatun Nafs"

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhaniyah—sekolah spiritual—yang dirancang untuk membentuk pribadi bertakwa. 

Dalam perspektif Islam, Ramadhan memiliki kaitan yang sangat erat dengan tazkiyatun nafs, yaitu proses penyucian dan pengembangan jiwa manusia. 

Allah SWT menegaskan tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: “La‘allakum tattaqun” (agar kamu bertakwa). Takwa tidak mungkin terwujud tanpa pembersihan hati. 

Karena itu, Ramadhan sejatinya adalah proses intensif tazkiyah—membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan menumbuhkan akhlak mulia. Secara lahiriah, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan sejak fajar hingga magrib. Namun secara batiniah, puasa adalah latihan pengendalian hawa nafsu. 

Nafsu yang biasanya bebas mengikuti keinginan, selama Ramadhan dilatih untuk tunduk pada aturan Allah. Imam besar seperti Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa inti puasa bukan hanya menahan fisik, tetapi menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa—mata dari pandangan haram, lisan dari ghibah, dan hati dari iri serta riya. Inilah hakikat tazkiyatun nafs dalam ibadah puasa.

Ramadhan menghadirkan suasana yang kondusif untuk memperbaiki diri. Setan dibelenggu, pahala dilipatgandakan, dan pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Momentum ini memudahkan manusia untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan taubat. Penyakit hati seperti sombong, dengki, dan cinta dunia sering kali tumbuh karena jiwa terlalu dimanjakan. Puasa memotong dominasi keinginan tersebut. Ketika seseorang merasakan lapar, ia belajar empati. Ketika ia bangun malam untuk tarawih dan tahajud, ia melatih keikhlasan. Ketika ia menahan amarah, ia sedang membersihkan batinnya. Kata “tazkiyah” tidak hanya berarti membersihkan, tetapi juga menumbuhkan. Ramadhan bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai positif: sabar, syukur, disiplin, dan kepedulian sosial. Zakat dan sedekah yang digalakkan selama Ramadhan adalah bagian dari tazkiyatun nafs. Dengan berbagi, manusia membersihkan jiwanya dari sifat kikir dan cinta harta berlebihan. Dengan memperbanyak dzikir dan tilawah Al-Qur’an, hati menjadi lebih lembut dan tenang.

Pertanyaan pentingnya adalah apakah tazkiyah itu berhenti setelah Ramadhan berakhir ? Ramadhan sejatinya adalah titik awal transformasi, bukan garis finis. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan lama, maka proses penyucian belum benar-benar mengakar. Ramadhan yang berhasil adalah yang meninggalkan jejak perubahan: ibadah yang lebih konsisten, hati yang lebih lembut, dan akhlak yang lebih baik. Ramadhan adalah cermin yang memperlihatkan kondisi hati manusia. Ia membuka kesempatan untuk membersihkan diri dari debu-debu dosa dan memperindah jiwa dengan cahaya ketakwaan. Dalam kehidupan yang penuh distraksi dan ambisi duniawi, Ramadhan hadir sebagai pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada materi, tetapi pada jiwa yang bersih. Tazkiyatun nafs bukan sekadar konsep tasawuf, melainkan kebutuhan setiap insan yang ingin meraih derajat takwa. Karena pada akhirnya, kemenangan Ramadhan bukan hanya dirayakan dengan gema takbir, tetapi dengan hati yang lebih jernih dan jiwa yang lebih dekat kepada Allah.*****


*Hasdi Suryadi

Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin & Akuntan Publik

Lebih baru Lebih lama