Banjarmasin, derapjurnalis.comPeringatan kemerdekaan ke-81 tahun ini terasa berbeda. Perayaannya diserta sejumlah peristiwa yang nampak bertolak belakang. Ada pengibaran bendera Bintang Fajar di Papua, bendera Bulan Bintang di Aceh dan tidak ketinggalan bendera Borneo Raya di Kalimantan. Ada apa dan apa yang sedang terjadi dengan Indonesia?
Demonstrasi mahasiswa juga menyertai perayaan kemerdekaan. Delapan poin tuntutan disampaikan, terutama terkait program strategis nasional seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih. Program strategis, yang seharusnya menjadi kompas dalam mencapai kemajuan berbangsa, justru dianggap biang masalah, sebab dari kemunduran bangsa.
Apa itu Merdeka? jangan-jangan kita salah dalam memaknai kata Merdeka.
“Merdeka” berasal dari bahasa Sanskerta, berbunyi mahardhika, dari kata maha dan ardhika. Maha berarti besar, luhur. Sedangkan Ardhika, artinya makmur, sejahtera, berkuasa, berdaulat. Jadi arti aslinya, “orang yang makmur dan berkuasa, atau orang kaya, bangsawan.
Dari bahasa Sanskerta, masuk menjadi bahwa Jawa Kuno dan bahasa Melayu. Awalnya dipakai di lingkungan keraton untuk menyebut orang merdeka, orang besar, bukan budak. Zaman perbudakan, kata ini begitu istimewa dan mahal, karena memiliki harga dan derajat yang tinggi.
Tentu terdapat perbedaan makna dulu versus sekarang. Dulu dimaknai bebas dari perbudakan, seorang yang kaya atau dari kalangan bangsawan. Sekarang maknanya, bebas dari penjajahan, berdaulat dan mandiri.
Ketika Bung Karno memekikkan kata merdeka dan kemudian menjadi salam nasional, maknanya adalah bangsa yang bebas, berdaulat, tidak dijajah oleh bangsa asing.
Karena merupakan bahasa Sanskerta, maka kitab-kitab kuno menyebut kata mahardhika. Salah satunya yang sangat terkenal pada kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Tapi kata mahardhika itu sendiri tentu bukan karangan Mpu Tantular yang ditulis pada abad ke-14, karena kata itu sudah ada dalam bahasa pergaulan, terutama para bangsawan dan dipakai sejak Majapahit.
Mahardhika yang semula bermakna bebas sebagai individu, menjadi bebas sebagai bangsa. Dalam bahasa Tagalog juga ada kata Malaya yang berarti merdeka. Dalam bahasa Banjar, bahkan terdapat sejumlah kata yang bermakna merdeka, ada kata Basarak, Libas yang berarti bebas. Ada pula kata Lampas, Labas, yang artinya lepas dari ikatan.
Kalau pekik merdeka diwarnai gugatan untuk bebas dan keluar dari negara sendiri, lantas apa yang salah dengan kata merdeka itu?
Memang harus diakui, pemerintahan semakin kehilangan kepercayaan. Tata kelolanya tidak mampu “merdeka” dari belenggu korupsi yang menggurita. Sebesar apapun potensi yang dikelola, bila mental korup masih membelenggu jiwa-jiwa pengelola, tidak akan membawa pada kemerdekaan yang sesungguhnya. Apapun gagasan hebat, termasuk segala yang tertuang dalam proyek strategis nasional, hanya berujung jadi bancakan korupsi.
Di lain sisi, kemiskinan dan kecemburuan sosial terus menganga. Sulitnya lapangan pekerjaan dan PHK, menghantui pekerja. Harga-harga kebutuhan pokok dan pajak, terus melambung tinggi. Nilai tukar, penjualan, quota ekspor dan kepercayaan, merosot tajam, bagai masuk ke tebing jurang.
Lebarnya jarak antara harapan dan kenyataan, tidak diikat dan dihubungkan oleh “kepercayaan” untuk terus bersama, lantas di sinilah kata “merdeka” harus dipekikkan di telinga sendiri. Dan ketika kata itu dipekikkan dengan nyaring, keraguan pun menggema, benarkah kita merdeka? (nm)
Tags
Headline