Banjarmasin, Senin (3/8/2026) - derapjurnalis.com - Menolong orang yang sedang mengalami kesusahan merupakan salah satu amal yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Bagi mereka yang diberi kelebihan harta, kesempatan untuk bersedekah tentu lebih luas. Tidak perlu takut menjadi miskin karena berbagi. Justru banyak ajaran agama yang menegaskan bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah.
Lalu bagaimana dengan orang yang hidup serba terbatas?
Islam mengajarkan bahwa sedekah tidak selalu berupa uang atau harta benda.
Bersedekahlah sesuai kemampuan. Jika tidak memiliki apa-apa untuk diberikan, senyum yang tulus, wajah yang ramah, perkataan yang baik, dan sikap yang menyenangkan kepada sesama juga termasuk sedekah yang bernilai di sisi Allah SWT.
Pagi ini, dalam ceramah agama di Masjid KH Ahmad Dahlan, Kompleks Perguruan Muhammadiyah, Jalan S. Parman, Banjarmasin, disampaikan sebuah kisah yang sangat menyentuh hati.
Beberapa tahun silam, Raja Faisal dari Arab Saudi berkunjung ke Belgia. Saat itu Belgia baru saja dilanda kebakaran besar yang menewaskan banyak warga dan menghancurkan permukiman mereka.
Tanpa menunggu diminta, Raja Faisal memberikan bantuan sebesar satu miliar dolar untuk membantu para korban. Kedermawanan itu membuat Raja Belgia sangat terharu, karena menurut kisah yang disampaikan dalam ceramah tersebut, belum ada negara Eropa yang memberikan bantuan secara spontan sebesar itu.
Sebagai ungkapan terima kasih, Raja Belgia mempersilakan Raja Faisal meminta hadiah apa pun yang diinginkannya.
Namun yang diminta Raja Faisal bukanlah emas, bukan pula istana atau kehormatan. Beliau hanya meminta sebidang tanah yang strategis untuk dibangun sebuah masjid sebagai tempat ibadah umat Islam di Belgia.
Permintaan itu dikabulkan. Berdirilah sebuah masjid lengkap dengan Islamic Center yang hingga kini menjadi pusat kegiatan umat Islam di sana.
Ceramah itu juga menyampaikan kisah nyata lainnya dari Negeri Yaman.
Seorang guru memiliki murid yang sangat cerdas, tetapi sering terlambat bahkan jarang masuk sekolah. Sang guru penasaran dan mencari tahu penyebabnya.
Ternyata anak itu berasal dari keluarga miskin. Ibunya berjualan kue untuk menghidupi keluarga.
Suatu hari sang guru mengajak muridnya berjalan-jalan dan sengaja melewati warung tempat ibunya berjualan. Ketika ditanya apakah mengenal penjual kue itu, si anak justru menyangkal. Ia mengaku malu karena sering diejek dan dibully teman-temannya akibat pekerjaan sang ibu.
Mendengar pengakuan itu, hati sang guru tersentuh. Ia kemudian memberikan perhatian, dukungan, dan membantu murid tersebut agar tetap semangat belajar.
Tahun demi tahun berlalu.
Suatu ketika, sang guru mengalami sakit jantung dan harus menjalani operasi di London.
Setibanya di rumah sakit, dokter spesialis jantung yang akan menanganinya tiba-tiba memeluknya sambil berkata,
"Pak Guru... apakah Bapak masih ingat kepada saya? Saya adalah murid SMP yang dulu Bapak bantu."
Anak cerdas dari keluarga sederhana itu akhirnya berhasil menjadi dokter spesialis jantung ternama di London dan menjalani kehidupan yang sukses.
Dua kisah tersebut mengajarkan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah sia-sia. Ada sedekah berupa harta, ada sedekah berupa ilmu, ada sedekah berupa perhatian, ada pula sedekah berupa kekuasaan yang digunakan untuk menolong sesama.
Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan, mungkin hari ini tampak sederhana. Namun di kemudian hari, Allah SWT dapat mengembalikannya dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.
Terus terang, mendengar dua kisah itu pada pengajian pagi ini membuat mata saya berkaca-kaca. Air mata pun tak mampu saya bendung. Semoga kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan berbuat baik selalu ada, bagi siapa pun, sesuai kemampuan yang dimiliki.*****juna
Tags
Headline