Banjarmasin, derapjurnalis.com - Dulu, sebagian masyarakat primitif menganggap alam sebagai dewa. Mereka begitu hormat kepada gunung, sungai, pohon, matahari, bulan, dan berbagai kekuatan alam lainnya hingga menyembahnya, memberi sesajen, dan melafalkan mantra-mantra. Praktik semacam ini pada umumnya lahir dari keterbatasan manusia dalam memahami gejala alam yang mereka anggap memiliki kekuatan menentukan nasib kehidupan. Alam ditempatkan begitu tinggi, bahkan dianggap sebagai kekuatan adikodrati yang harus ditakuti dan disembah.
Di era modern, keadaan justru berbalik. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi, manusia semakin mampu memahami rahasia alam. Tetapi kemampuan memahami alam itu tidak selalu melahirkan sikap bersahabat dengannya. Alam justru semakin sering ditempatkan sebagai objek yang boleh dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan dan hasrat manusia yang nyaris tidak terbatas. Hutan ditebang, sungai dicemari, tanah dieksploitasi, laut dikuras, dan berbagai kekayaan alam dikeruk seolah-olah semuanya tersedia hanya untuk kepentingan manusia.
Diantara dua sikap ekstrem tersebut sesungguhnya terdapat jalan yang lebih manusiawi sekaligus lebih religius: membangun keakraban dengan alam. Alam tidak perlu disembah, tetapi juga tidak boleh diperlakukan semena-mena. Alam bukan Tuhan, tetapi ia adalah ciptaan Tuhan. Karena itu, alam layak dihormati, dipelihara, dan diperlakukan sebagai sesama makhluk yang memiliki tempat dalam kehidupan.
Dalam perspektif Islam, manusia dan alam sama-sama berasal dari kehendak Sang Pencipta. Manusia bukan makhluk yang berdiri sendirian di tengah semesta, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang sangat luas. Air yang kita minum berasal dari alam. Udara yang kita hirup adalah pemberian alam. Makanan yang kita konsumsi tumbuh dari tanah. Bahkan tubuh manusia sendiri pada akhirnya akan kembali menjadi bagian dari tanah. Dalam pengertian yang sangat mendasar, manusia dan alam memiliki nasib yang sama: sama-sama ciptaan dan sama-sama berada di bawah kehendak Tuhan.
Karena itu, hubungan manusia dengan alam seharusnya bukan semata-mata hubungan antara penguasa dan yang dikuasai, atau antara subjek dan objek yang bebas dimanfaatkan. Hubungan itu semestinya lebih dekat dengan hubungan persaudaraan. Bukan berarti alam harus diperlakukan persis seperti manusia, tetapi karena manusia dan alam sama-sama merupakan ciptaan Tuhan, keduanya berada dalam satu keluarga besar kehidupan. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita diajarkan untuk menyayangi sesama ciptaan?
Al-Qur'an bahkan menggambarkan bahwa seluruh alam memiliki cara sendiri dalam mengabdi kepada Allah. “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. al-Isra' [17]: 44). Ayat ini menghadirkan perspektif yang sangat indah: alam bukan benda mati yang bisu dan tidak bermakna. Seluruh ciptaan memiliki hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Hanya saja, manusia sering kali tidak mampu mendengar dan memahami bahasa tasbih mereka.
Pohon yang tumbuh, burung yang terbang, air yang mengalir, angin yang berembus, dan tanah yang menumbuhkan kehidupan, semuanya berada dalam keteraturan yang telah ditetapkan Tuhan. Mereka menjalankan fungsi masing-masing dalam sebuah sistem kehidupan yang saling berhubungan. Jika salah satu bagian dirusak, bagian lain ikut merasakan akibatnya. Ketika hutan hilang, air kehilangan tempat menyimpan dan mengalirkan kehidupan. Ketika sungai tercemar, bukan hanya ikan yang kehilangan habitat, manusia pun kehilangan sumber kehidupan. Ketika udara tercemar, yang sakit bukan hanya alam, tetapi juga manusia.
Di sinilah kita perlu membangun kembali rasa keakraban dengan alam. Keakraban tidak mungkin tumbuh jika alam hanya kita lihat sebagai angka, komoditas, atau sumber keuntungan. Kita perlu kembali melihat alam sebagai bagian dari kehidupan kita. Sungai bukan sekadar saluran air. Hutan bukan sekadar kayu. Gunung bukan sekadar kandungan mineral. Laut bukan sekadar sumber ikan dan energi. Di balik semua itu terdapat kehidupan yang saling terhubung dan berada dalam satu ketetapan Tuhan.
Membangun keakraban dengan alam juga berarti belajar memperlakukannya dengan kasih sayang. Ketika melihat pohon, kita tidak hanya melihat kayu yang suatu saat dapat ditebang, tetapi melihat makhluk yang memberi oksigen, menyerap karbon, menaungi kehidupan, dan menjadi bagian dari ekosistem. Ketika melihat sungai, kita tidak hanya melihat air yang mengalir, tetapi melihat salah satu urat kehidupan yang menghidupi manusia dan makhluk lainnya. Ketika melihat tanah, kita tidak hanya melihat tempat berpijak, tetapi sumber kehidupan yang darinya makanan tumbuh dan ke sana pula manusia akan kembali.
Barangkali inilah yang hilang dari kehidupan modern: keakraban. Kita sangat dekat dengan alam secara fisik, tetapi semakin jauh secara batin. Kita menikmati pemandangan hutan tanpa merasa memiliki kewajiban menjaganya. Kita memotret sungai yang indah, tetapi membuang sampah ke dalamnya. Kita menikmati udara sejuk dari pepohonan, tetapi tidak merasa bersalah ketika pohon-pohon itu ditebang. Kita menikmati hasil laut, tetapi tidak peduli ketika laut dipenuhi sampah dan mengalami kerusakan.
Padahal, keakraban dengan alam semestinya melahirkan rasa malu untuk menyakitinya. Sebagaimana kita tidak tega merusak rumah sahabat sendiri, kita pun seharusnya tidak tega merusak rumah bersama yang bernama bumi. Sebagaimana kita membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup, manusia juga membutuhkan alam. Dan sebagaimana manusia memiliki keterbatasan, alam pun memiliki daya dukung yang tidak tak terbatas.
Kesadaran seperti ini penting karena krisis lingkungan pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi atau ekonomi. Ia juga merupakan persoalan cara pandang. Ketika manusia memandang dirinya sebagai pusat segala sesuatu dan alam hanya sebagai benda yang tersedia untuk memenuhi keinginannya, eksploitasi menjadi sesuatu yang mudah dibenarkan. Sebaliknya, ketika manusia menyadari dirinya sebagai bagian dari komunitas ciptaan Tuhan, akan tumbuh sikap rendah hati, tanggung jawab, dan kasih sayang terhadap lingkungan.
Maka, sudah saatnya manusia mengubah cara memandang alam: dari objek menjadi sahabat, dari komoditas menjadi amanah, dan dari sesuatu yang hanya dimanfaatkan menjadi sesuatu yang juga harus dirawat. Alam tidak membutuhkan manusia untuk menjadi Tuhan baginya. Alam hanya membutuhkan manusia untuk menjadi manusia yang tahu diri—menyadari bahwa ia hanyalah salah satu bagian dari ciptaan yang hidup bersama ciptaan lainnya.
Pada akhirnya, membangun keakraban dengan alam bukan sekadar ajakan untuk menanam pohon, mengurangi sampah, menghemat air, atau menjaga hutan. Semua itu memang penting. Tetapi lebih jauh dari itu, membangun keakraban dengan alam adalah usaha membangun kembali kesadaran spiritual bahwa kita hidup dalam satu rumah ciptaan Tuhan. Kita, pohon, burung, sungai, tanah, laut, dan seluruh makhluk lainnya sama-sama berada dalam satu orkestrasi kehidupan dan sama-sama menghadap kepada Sang Pencipta.
Jika seluruh ciptaan sedang bertasbih kepada Tuhan, maka merusak alam berarti mengganggu harmoni tasbih itu. Sebaliknya, merawat alam adalah cara manusia menempatkan dirinya kembali sebagai bagian dari keluarga besar ciptaan. Kita tidak hidup di atas alam, tetapi hidup bersama alam. Kita bukan penguasa tunggal bumi, melainkan sesama penghuni rumah Tuhan. Karena itu, sudah saatnya kita tidak hanya mengenal alam, tetapi bersahabat dengannya; tidak hanya mengambil darinya, tetapi juga merawatnya. Sebab, pada hakikatnya, menjaga alam adalah menjaga saudara-saudara kita sesama ciptaan Tuhan.*****
Tags
Headline