Banjarmasin, derapjurnalis.com - Setiap Nabi mengajarkan monoteisme (tauhid). Demikian pula Nabi Muhammad. Hal itu dapat dilihat pada lima ayat pertama yang diturunkan kepada beliau. Ayat itu dimulai dengan perintah membaca dengan nama Tuhan yang menciptakan. Namun pada ayat ketiga, perintah membaca diulangi dengan menyatakan bahwa Tuhanmu Maha Pemurah. Dari dua pola perintah membaca itu dapat diambil pelajaran bahwa inti ajaran Nabi sebenarnya adalah kesadaran bertuhan. Kesadaran bertuhan bersumber dari keyakinan bahwa ada Pencipta, atau bersumber pada perasaan adanya Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Mulia. Dua model kesadaran bertuhan inilah yang kemudian berkembang dalam sejarah pemikiran manusia: kesadaran bertuhan melalui pencarian rasional sebagaimana dilakukan para ilmuwan dan filosof, dan kesadaran bertuhan melalui pengalaman batin sebagaimana ditempuh para sufi.
Perintah pertama, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. al-‘Alaq: 1), seakan-akan mengajak manusia mengenal Tuhan melalui ciptaan-Nya. Membaca tidak hanya berarti membaca tulisan, tetapi juga membaca kehidupan, alam, manusia, dan seluruh tanda-tanda yang terbentang di hadapan mata. Alam adalah sebuah “buku besar” yang dapat dibaca untuk menemukan jejak Sang Pencipta. Semakin manusia membaca dan memahami keteraturan alam, semakin terbuka kemungkinan baginya untuk menyadari bahwa di balik segala sesuatu terdapat sumber penciptaan.
Di sinilah ilmu pengetahuan menemukan tempatnya. Ilmu berusaha menjawab bagaimana alam bekerja, bagaimana kehidupan terbentuk, bagaimana hukum-hukum alam berlangsung, dan bagaimana berbagai fenomena saling berhubungan. Sementara itu, kesadaran bertuhan mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang menciptakan semua itu dan untuk apa manusia berada di dalamnya? Ilmu dapat menjelaskan mekanisme, tetapi kesadaran bertuhan membawa manusia kepada pertanyaan tentang makna. Karena itu, membaca alam tidak berhenti pada pengetahuan tentang alam, tetapi dapat berlanjut menjadi pengenalan terhadap Tuhan.
Sementara itu, pengulangan perintah membaca pada ayat ketiga dengan ungkapan “Tuhanmu Yang Maha Pemurah” memberikan tekanan yang berbeda. Tuhan tidak hanya diperkenalkan sebagai Pencipta, tetapi juga sebagai Yang Maha Pemurah. Manusia tidak hanya diajak menyadari bahwa dirinya berasal dari Tuhan, tetapi juga menyadari bahwa keberadaannya merupakan anugerah. Hidup, kemampuan berpikir, kemampuan merasakan, udara yang dihirup, air yang diminum, makanan yang tersedia, bahkan kesempatan untuk mengenal Tuhan, semuanya merupakan bentuk kemurahan-Nya.
Dari sini lahir kesadaran bertuhan yang tidak semata-mata bersifat intelektual, tetapi juga emosional dan spiritual. Tuhan bukan hanya “diketahui”, melainkan juga “dirasakan”. Inilah wilayah yang kemudian sangat kuat dikembangkan dalam tradisi tasawuf. Para sufi tidak puas hanya dengan mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Mereka berusaha menghadirkan kesadaran tentang Tuhan dalam hati sehingga kehadiran-Nya dirasakan dalam setiap tarikan napas, setiap tindakan, dan setiap pengalaman kehidupan.
Dengan demikian, terdapat dua jalan yang tampak berbeda dalam membangun kesadaran bertuhan. Jalan pertama adalah jalan penalaran, yaitu mengenal Tuhan melalui tanda-tanda ciptaan-Nya. Manusia mengamati, berpikir, meneliti, dan menemukan keteraturan yang mengantarnya kepada kesadaran tentang Sang Pencipta. Jalan kedua adalah jalan penghayatan, yaitu mengenal Tuhan melalui pengalaman batin, cinta, rasa syukur, ketundukan, dan kedekatan spiritual.
Yang pertama banyak dikembangkan oleh filosof dan ilmuwan; yang kedua menemukan bentuknya yang sangat kuat dalam tradisi para sufi.
Akan tetapi, keduanya sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Dalam diri Nabi Muhammad, pengetahuan dan penghayatan berjalan bersama. Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia menggunakan akal sekaligus membersihkan hati. Manusia diminta memperhatikan penciptaan langit dan bumi, tetapi sekaligus mengingat Allah. Bahkan ulul albab dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai orang yang menggabungkan aktivitas berpikir dengan aktivitas mengingat Tuhan (QS. Ali ‘Imran: 190–191).
Karena itu, mungkin inti ajaran Nabi bukan sekadar percaya bahwa Tuhan ada, tetapi bagaimana keyakinan itu tumbuh menjadi kesadaran bahwa Tuhan selalu hadir dalam kehidupan. Percaya bahwa Tuhan menciptakan alam seharusnya melahirkan rasa tanggung jawab alam. Percaya bahwa Tuhan Maha Pemurah seharusnya melahirkan kemurahan hati kepada sesama. Percaya bahwa Tuhan Maha Melihat seharusnya membuat manusia berhati-hati dalam bertindak, termasuk ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Kesadaran bertuhan dengan demikian bukan sekadar persoalan teologi yang berada di dalam pikiran. Ia harus turun menjadi kesadaran moral. Orang yang benar-benar sadar akan Tuhan semestinya tidak mudah merusak, menyakiti, menipu, mengambil hak orang lain, atau mengeksploitasi alam secara berlebihan. Tauhid yang hanya berhenti pada pengakuan bahwa “Tuhan itu satu” belum sepenuhnya menemukan buahnya jika perilaku manusia justru menunjukkan seolah-olah dirinya adalah pusat segala sesuatu.
Barangkali di sinilah kita perlu kembali mencari inti ajaran Nabi. Islam tidak hanya ingin melahirkan manusia yang tahu tentang Tuhan, tetapi manusia yang sadar akan Tuhan. Pengetahuan tentang Tuhan dapat membuat seseorang pandai berbicara tentang agama, tetapi kesadaran akan Tuhan membuat seseorang berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Pengetahuan dapat berada di kepala, sedangkan kesadaran mestinya meresap sampai ke hati dan tercermin dalam perilaku.
Dengan perspektif ini, perintah iqra’ pada awal wahyu memiliki makna yang sangat luas. Manusia diminta membaca alam, membaca dirinya, membaca terhadap kehidupan, sekaligus membaca wahyu. Semua pembacaan itu pada akhirnya diarahkan kepada satu kesadaran: bahwa di balik keberadaan yang kita lihat terdapat Tuhan Sang Pencipta, dan di balik segala nikmat yang kita terima terdapat Tuhan Yang Maha Pemurah.
Maka, semakin banyak manusia membaca seharusnya semakin dalam pula kesadaran bertuhannya. Semakin maju ilmu pengetahuan, semestinya semakin besar pula rasa rendah hati manusia di hadapan kebesaran ciptaan Tuhan. Dan semakin dalam pengalaman spiritual seseorang, semestinya semakin luas pula kasih sayangnya kepada seluruh makhluk.
Mungkin inilah inti ajaran para Nabi: membawa manusia dari sekadar mengetahui Tuhan menuju kesadaran akan Tuhan, lalu dari kesadaran itu menuju kehidupan yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan.