Cerita Di Siang Hari, Harmoni Pesan Perdamaian


"Merawat Damai Dengan Lagu, Robert Hendra Sulu Hadir di Studio Pro 1 RRI Banjarmasin"

Banjarmasin, derapjurnalis.comSuasana hangat menyelimuti Studio RRI Pro 1 Banjarmasin dalam Program Cerita di Siang Hari, saat Musisi sekaligus Praktisi Hukum Robert Hendra Sulu hadir membawa pesan “Merawat Damai dengan Lagu”.


Dalam Siaran Persnya yang diterima Jum'at (15/5/2026), Robert bercerita, kehadirannya di Pro 1 RRI Banjarmasin tidak hanya menghadirkan alunan musik, tetapi juga kisah kehidupan dan refleksi tentang pentingnya toleransi serta kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.

Musisi yang juga berprofesi sebagai Lawyer itu tampak sumringah. 


Sebelum percakapan dimulai, Dia memainkan harmonika diatonik dengan nada lembut yang langsung membuat suasana studio terasa teduh.

“Sepertinya bahagia sekali hari ini ya, Sahabat Robert,” ujar host sambil tersenyum.

“Yang penting harus bahagia,” jawab Robert ringan.

Host lalu penasaran dengan melodi harmonika yang baru dimainkan.

“Kalau boleh tahu, tadi judul lagu yang dimainkan apa?”

Robert mengangkat harmonikanya perlahan.

“Judulnya DAUN. Singkatan dari Doa Anak Untuk Negeri.”

Lagu “DAUN” dan Kolaborasi Bersama Lisa Halaby. Robert menjelaskan, lagu tersebut merupakan kolaborasi bersama Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby.

“Beliau yang menulis liriknya, Saya yang menyusun melodi dan aransemen,” ujar Robert.

Menurutnya, lagu itu lahir dari gagasan sederhana tentang harapan dan kepedulian terhadap Negeri.

“Saya membaca liriknya berulang kali. Saya bilang, ini keren sekali. Jarang ada Kepala Daerah yang menyampaikan pesan lewat lagu seperti ini,” katanya.

Host tampak kagum.

“Berarti ini pertama kali Sahabat Robert berkolaborasi dengan seorang Wali Kota?”

Robert mengangguk.

“Pertama kali. Dan menurut Saya luar biasa, karena seorang Pemimpin Daerah juga bisa menyampaikan pesan kemanusiaan lewat seni.”

Beberapa bagian lirik, kata Robert, disesuaikan dengan tempo harmonika agar lebih menyatu dengan melodi.

Yang membuat lagu itu terasa unik, seluruh aransemen hanya menggunakan harmonika diatonik tanpa instrumen tambahan.

“Semua harmonika. Tidak ada alat musik lain,” ujarnya.

Dengan napas panjang Host kemudian memperhatikan harmonika kecil di tangan Robert.

“Kelihatannya sederhana, tapi ternyata nadanya banyak sekali ya?”

Robert tertawa kecil.

“Nah, ini pertanyaan paling heboh,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa harmonika diatonik termasuk alat musik yang cukup sulit dimainkan.

“Hanya punya sepuluh lubang kecil dan tidak semua not ada di situ. Jadi pemain harus paham teknik napas, matematika nada, dan feeling.”

Di tengah obrolan, Robert sempat memperagakan teknik harmonika yang membuat Host spontan berdecak kagum.

“Tidak semua orang bisa memainkan harmonika seperti itu,” kata Host.

Robert mengaku baru serius mempelajari harmonika sekitar tiga hingga empat tahun terakhir secara otodidak.

“Saya suka tantangan,” ujar Robert singkat.

Percakapan kemudian berubah lebih personal ketika Robert mulai bercerita tentang kesehatannya.

Ia mengaku pernah mengalami gangguan kesehatan hingga mulutnya sempat miring. Dari situlah harmonika menjadi bagian penting dalam proses pemulihannya.

“Ini yang membantu Saya bangkit,” katanya pelan.

Menurut Robert, harmonika bukan sekadar alat musik.

“Kalau alat musik lain hanya meniup. Tapi harmonika ini tiup dan isap sekaligus. Jadi paru-paru, jantung, otot perut, semua bekerja.”

Host menimpali dengan nada kagum.

“Berarti ini bukan hanya musik, tapi terapi juga ya?”

Robert mengangguk.

“Makanya Saya bilang harmonika ini seperti mantra.”

Ia bahkan menyebut harmonika membantunya menjaga kesehatan dan menjauh dari kebiasaan merokok.

Dalam sesi berikutnya, Host menyinggung lagu Robert yang belakangan banyak diperbincangkan, yaitu lagu Maluku Utara Torang Cinta.

“Lagu ini terasa sekali nuansa persatuan dan kecintaan terhadap Daerah. Apa yang menginspirasi lahirnya lagu itu?” tanya Host.

Robert terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Karena kerinduan.”

Kerinduan terhadap tanah kelahiran, persaudaraan, dan semangat membangun Negeri.

Ia mengaku banyak membaca tentang pembangunan di Maluku Utara, termasuk kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda.

“Saya memang belum pernah bertemu langsung dengan Ibu Sherly Tjoanda, tetapi Saya melihat semangat pembangunan di sana,” ujarnya.

Menurut Robert, sebagian besar isi video klip lagu tersebut berbicara tentang pembangunan Maluku Utara.

“Musik lebih cepat menyentuh hati dibanding pidato panjang atau tulisan ratusan halaman,” katanya.

Host kemudian membacakan penggalan lirik lagu itu :

Maluku Utara torang cinta

Itu rindu torang samua

Marimoi ngone futuru

Mari torang bersatu

“Merinding mendengarnya,” ujar Host.

Robert tersenyum kecil.

“Itu bukan sekadar lagu. Itu pesan persaudaraan.”

Di balik gaya santainya, Robert ternyata memiliki filosofi tersendiri dalam berkarya.

“Saya punya prinsip SENTER,” katanya.

Host penasaran.

“SENTER?”

“Senang, tenang, terang.”

Menurut Robert, sebuah lagu tidak cukup hanya membuat orang senang.

“Kalau hanya senang tapi tidak memberi ketenangan, itu bukan karya Saya. Kalau memberi tenang tapi tidak memberi harapan, itu juga bukan karya Saya.”

Host spontan berkata pelan, “Dalam sekali.”

Robert kemudian menambahkan bahwa Dunia Hukum dan musik sebenarnya sangat dekat dalam hidupnya.

“Jarak antara Lawyer dan musik itu hanya sehelai rambut.”

Di tengah maraknya konflik Media Sosial dan tawuran Remaja, Robert percaya musik masih memiliki ruang besar untuk menyatukan banyak orang.

“Musik itu universal. Kadang orang tidak terlalu memahami liriknya, tetapi mereka bisa merasakan emosinya,” ujarnya.

Ia berharap Generasi Muda diberi lebih banyak ruang untuk berkarya.

“Jangan nanti sudah tua baru bicara tentang damai. Anak-anak sejak dini harus diajarkan toleransi.”

Robert juga meminta Masyarakat tidak langsung memandang negatif musik yang dimainkan Anak Jalanan.

“Mungkin bagi sebagian orang terdengar berisik, tapi bagi Saya itu bentuk ekspresi yang ingin didengar.”

Menurutnya, seni sering kali menjadi jalan keluar dari tekanan sosial dan emosi yang dipendam Anak Muda.

Menjelang akhir acara, suasana studio kembali hening dan hangat.

Host bertanya mengenai pesan terakhir Robert untuk Masyarakat Indonesia.

Robert menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Jangan takut dibilang salah ketika ingin berbuat baik.”

Ia juga mengajak Generasi Muda untuk terus belajar musik dan berkarya.

“Kadang sesuatu yang besar lahir dari proses panjang.”

Bagi Robert, musik bukan sekadar hiburan.

“Lagu adalah doa.”

Host lalu menutup Program dengan suara lembut.

“Semoga obrolan hari ini mengingatkan Kita bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga bahasa hati yang mampu menyatukan banyak perbedaan.”

Acara kemudian ditutup dengan pemutaran lagu Maluku Utara Torang Cinta.*****

Lebih baru Lebih lama