Dunia Bergejolak, Ekonomi Indonesia Tetap Bergerak

Banjarmasin, derapjurnalis.com - Ketika dunia belum lepas dari berbagai gejolak, ekonomi Indonesia masih menunjukkan tanda-tanda ketahanan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat dan tekanan inflasi menjadi tantangan yang ikut memengaruhi perekonomian global.

Namun ditengah kondisi tersebut, sektor jasa keuangan Indonesia masih mampu berdiri cukup kokoh.

Dalam Siaran Persnya yang diterima Senin (10/8/2026) disebutkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan pada 29 Juli 2026, menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dan mampu mendukung pengembangan serta penguatan sektor keuangan nasional.

Kabar dari dalam negeri juga relatif memberi harapan. Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan, sementara aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) sebesar 50,2 persen.

Salah satu perkembangan menarik terlihat di pasar modal. Pada Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.236,13 atau menguat 10,51 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Investor asing yang sebelumnya banyak melakukan aksi jual mulai kembali masuk. Pada Juli 2026 tercatat net buy sebesar Rp1,62 triliun, berbalik dari Juni 2026 yang mencatat net sell Rp19,63 triliun.

Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah. Hingga Juli 2026, jumlah investor pasar modal mencapai 30,06 juta investor, tumbuh 47,63 persen secara tahunan berjalan.

Bagi masyarakat, angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik jutaan investor itu terdapat masyarakat yang mulai mengenal investasi dan mencoba mempersiapkan masa depan melalui pasar modal.

Namun bertambahnya investor tentu harus diikuti pengetahuan. Investasi bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga memahami risiko.

Hingga akhir Juli 2026, penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal mencapai Rp121,96 triliun. Sementara dana yang dihimpun melalui Securities Crowdfunding secara kumulatif telah mencapai Rp2,01 triliun.

Dari sektor Perbankan, kinerja intermediasi juga melanjutkan tren penguatan. Kredit perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp9.081 triliun.

Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang kredit investasi yang tumbuh 24,9 persen, kredit modal kerja 8,94 persen dan kredit konsumsi 5,75 persen.
Kredit korporasi tumbuh 20,45 persen, sementara kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan 1,05 persen.

Dana pihak ketiga Perbankan juga tumbuh 10,21 persen menjadi Rp10.282 triliun.
Yang tidak kalah penting, kualitas kredit masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau NPL gross tercatat 2,09 persen dan NPL net sebesar 0,82 persen.

Permodalan Perbankanpun tetap kuat. Artinya, pertumbuhan kredit tidak hanya berbicara mengenai besarnya uang yang disalurkan perbankan, tetapi juga bagaimana pembiayaan tersebut tetap dijaga agar sehat.

Cara masyarakat menggunakan layanan keuangan juga terus berubah. Layanan digital semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya terlihat dari pertumbuhan Buy Now Pay Later atau BNPL melalui perusahaan pembiayaan.

Pada Juni 2026, pembiayaan BNPL tumbuh 57,02 persen secara tahunan menjadi Rp13,40 triliun. Sementara pembiayaan pinjaman daring tumbuh 25,88 persen menjadi Rp105,14 triliun.
Angka tersebut menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap layanan keuangan digital.

Tetapi kemudahan tetap membutuhkan kehati-hatian. Masyarakat perlu memahami biaya, bunga atau imbal hasil, jangka waktu pembayaran dan risiko sebelum menggunakan produk keuangan digital.

Sektor keuangan syariah juga memperlihatkan perkembangan.
Pada Juni 2026, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 11,09 persen secara tahunan, sementara piutang pembiayaan syariah tumbuh 9,14 persen. Kabar yang cukup dekat dengan masyarakat Kalimantan Selatan datang dari pelaksanaan Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Banjarmasin pada 4-5 Juli 2026. Kegiatan yang melibatkan 17 pelaku usaha jasa keuangan syariah, Rumah Zakat dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut mendapat sambutan masyarakat. Tercatat sebanyak 28.505 rekening baru dibuka dengan volume transaksi mencapai Rp236,6 miliar. Bagi masyarakat, kegiatan seperti ini membuka kesempatan untuk mengenal lebih dekat layanan keuangan syariah dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan.

Di tengah pertumbuhan industri jasa keuangan, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu kemampuan masyarakat memahami produk yang digunakan.

Masyarakat jangan hanya menjadi pengguna, tetapi juga harus menjadi konsumen yang cerdas.bKemudahan mendapatkan pinjaman, berinvestasi atau membuka rekening digital memang memberikan banyak pilihan. 

Namun setiap pilihan selalu memiliki manfaat sekaligus risiko. Karena itu, literasi dan perlindungan konsumen menjadi bagian penting dari perkembangan sektor jasa keuangan.
OJK juga bersama Kementerian Komunikasi dan Digital serta industri perbankan terus memperkuat pemberantasan scam dan perjudian daring.

Penguatan dilakukan melalui regulasi, pengawasan berbasis risiko serta koordinasi dalam menangani rekening yang terindikasi berkaitan dengan perjudian daring.

Pada akhirnya, sektor jasa keuangan bukan hanya tentang angka triliunan rupiah.bDi balik angka kredit perbankan ada pedagang yang membutuhkan tambahan modal. Di balik pertumbuhan investasi ada masyarakat yang ingin mempersiapkan masa depan.
LDi balik pembiayaan digital ada kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Dan di balik perkembangan keuangan syariah ada harapan agar masyarakat mendapatkan layanan keuangan yang sesuai dengan pilihan dan keyakinannya. Karena itu, pertumbuhan sektor jasa keuangan harus berjalan bersama dengan keamanan, kesehatan industri dan perlindungan konsumen.
OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga meskipun tantangan global masih membayangi. Dunia boleh bergejolak. Harga minyak boleh naik. Konflik geopolitik bisa datang silih berganti.
Namun selama roda ekonomi tetap bergerak, sektor keuangan tetap sehat dan masyarakat semakin cerdas mengelola keuangannya, selalu ada ruang untuk menjaga harapan. Sebab ekonomi yang tumbuh bukan hanya terlihat dari angka-angka di atas kertas. Ekonomi yang sehat adalah ketika denyut pertumbuhannya benar-benar dirasakan masyarakat.*****
Lebih baru Lebih lama