Banjarmasin, Minggu (30/8/2026), derapjurnalis.com - Kalau di Banjarmasin, namanya kue cucur. Entah dari mana asal nama itu, saya sendiri belum tahu. Yang saya tahu, kue ini sederhana, tetapi rasanya mampu membawa kita kepada banyak kenangan.
Bahan dasarnya pun tidak rumit. Ada tepung, gula merah dan minyak untuk menggoreng. Dari bahan-bahan sederhana itulah lahir kue berbentuk bulat dengan bagian pinggir yang renyah dan bagian tengah yang lembut.
Yang menarik, di tengah harga tepung, minyak goreng dan gula merah yang terus mengalami kenaikan, kue cucur masih sering kita temui dengan harga yang sangat bersahabat. Seribu rupiah satu kue.
Murah bukan berarti tidak bernilai. Justru di balik harga yang sederhana itu ada tangan-tangan ibu yang bekerja sejak pagi, menyiapkan kompor, adonan, minyak dan peralatan memasak. Mereka tidak sekadar menjual kue, tetapi sedang mencari rezeki untuk keluarganya.
Dari Kenangan Masa Kanak-kanak
Kue cucur juga membawa saya kembali ke masa tahun 1970-an, ketika saya masih duduk di Taman Kanak-kanak.
Dulu, yang saya lihat berjualan kue cucur umumnya adalah warga Banjar. Ibu-ibu membawa peralatan memasak dan menjajakan kue yang masih hangat. Suasananya sederhana, tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat kenangannya melekat.
Waktu terus berjalan.
Banjarmasin semakin ramai. Orang datang dari berbagai daerah dan berbagai suku. Ada yang datang untuk bekerja, berdagang, menuntut ilmu, atau sekadar mencari kehidupan yang lebih baik.
Pergaulan pun semakin luas. Orang Banjar menikah dengan pendatang dari berbagai daerah. Lahirlah keluarga-keluarga yang di dalamnya bertemu beragam latar belakang budaya.
Begitu pula dengan kue cucur.
Kalau dahulu lebih banyak saya lihat dijual oleh orang Banjar, sekarang kue cucur juga dijual oleh saudara-saudara kita dari berbagai suku, termasuk Jawa dan Madura.
Bagi saya, ini bukan sekadar perubahan siapa yang menjual kue.
Ada cerita Indonesia di sana.
Kue Cucur yang Menyatukan
Banjarmasin, khususnya, dan Kalimantan Selatan pada umumnya, sejak dahulu menjadi tempat bertemunya banyak orang. Pendatang datang, bergaul dengan masyarakat setempat, membangun kehidupan, bahkan membentuk keluarga.
Perbedaan suku tidak selalu menjadi jarak.
Justru dari perbedaan itu bisa lahir persaudaraan, kerja sama, dan keluarga besar yang semakin berwarna.
Saya melihat kue cucur sebagai salah satu gambaran kecil dari Indonesia itu sendiri.
Kuenya sederhana, tetapi yang membuatnya bisa sampai ke tangan kita berasal dari perjalanan manusia yang tidak sederhana.
Ada orang Banjar. Ada orang Jawa. Ada orang Madura. Ada pula saudara-saudara kita dari berbagai daerah lainnya.
Semua bisa membuat, menjual dan menikmati kue cucur yang sama.
Di depan sepiring kue cucur, kita tidak lagi bertanya, “Kamu dari suku apa?”
Yang penting, “Berapa biji, Bu?” 😄
Itulah indahnya kehidupan masyarakat kita.
Kue Lama, Rasa yang Tetap Dicintai
Zaman boleh berubah. Kue-kue modern terus bermunculan dengan bentuk, rasa dan kemasan yang semakin beragam.
Namun kue tradisional seperti kue cucur tetap memiliki tempat tersendiri.
Sebab yang kita beli bukan hanya tepung dan gula merah yang digoreng.
Kadang-kadang, kita juga sedang membeli kenangan.
Kenangan masa kecil. Kenangan tentang ibu-ibu yang berjualan di pinggir jalan. Kenangan tentang jajanan murah yang bisa dibeli dengan uang seadanya. Dan mungkin, bagi sebagian orang, kenangan tentang kampung halaman.
Saya yakin kue cucur akan terus bertahan.
Bukan karena ia tidak tersentuh zaman, tetapi karena selalu ada orang yang bersedia membuatnya, menjualnya dan menikmatinya.
Selama masih ada tangan yang mengaduk adonan, minyak yang mendesis di atas kompor, dan orang yang bersedia membeli, kue cucur akan tetap punya cerita.
Dan mudah-mudahan, cerita itu terus menjadi bagian kecil dari perjalanan Indonesia yang beragam, tetapi tetap satu.
Salam,
Muhammad Junaidi Nasri (MAHAJUNA)
Tags
Headline