Lontong Khas Banjarmasin, Kuliner yang Menyimpan Kearifan Lokal Oleh : Muhammad Junaidi Nasri (MAHAJUNA)

Banjarmasin, Minggu (16/8/2026), derapjurnalis.com- Berbicara tentang kuliner khas Banjarmasin, lontong tentu tidak bisa dilewatkan. Makanan yang satu ini bukan sekadar pengganjal perut, tetapi juga menyimpan cerita tentang kebiasaan, kesederhanaan, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Coba perhatikan cara lontong ini dibungkus.

Daun menjadi pembungkus utamanya. Sederhana, alami, dan setelah digunakan dapat lebih mudah terurai dibandingkan kemasan plastik. Di tengah semakin banyaknya penggunaan kemasan sekali pakai, cara seperti ini terasa begitu bersahaja, tetapi justru memiliki nilai lingkungan yang patut dipertahankan.

Untuk kuahnya, biasanya digunakan kantong plastik yang relatif polos atau tidak berwarna. Namun, perlu diluruskan bahwa plastik berwarna tidak otomatis menyebabkan penyakit. Yang perlu diperhatikan adalah apakah plastik tersebut memang dibuat untuk kontak dengan makanan, serta aman terhadap panas dan tidak mengandung bahan tambahan atau pewarna yang dapat berpindah ke makanan.

Penggunaan plastik yang tidak sesuai untuk makanan, terutama bila terkena makanan panas atau berminyak, berpotensi menyebabkan migrasi bahan kimia tertentu. Dalam jangka panjang, paparan terhadap beberapa bahan kimia dari plastik yang tidak aman dapat dikaitkan dengan gangguan hormon, gangguan fungsi organ tertentu, dan berbagai risiko kesehatan lainnya. Karena itu, yang paling penting bukan semata-mata warna plastik, tetapi keamanan dan peruntukan plastik tersebut untuk makanan.

Namun, ada satu hal lagi yang menarik dari lontong khas Banjarmasin ini, yaitu penggunaan "semat".

Dalam bahasa Banjar, semat merupakan potongan lidi bersih berukuran kurang lebih satu sentimeter yang digunakan untuk mengunci atau menahan lipatan daun agar bungkus lontong tidak terbuka.

Menariknya, semat itu biasanya dilepas oleh penjual sebelum lontong diberikan kepada pembeli.

Kelihatannya sederhana. Tetapi ternyata ada alasan di balik kebiasaan tersebut.

Semat yang masih menempel pada bungkus dapat berpotensi merobek kantong plastik pembawa lontong ketika terjadi guncangan, misalnya saat dibawa menggunakan kendaraan dan melewati jalan yang berlubang. Gesekan semat dengan kantong plastik bisa membuat kantong robek dan kuah tumpah.

Selain itu, semat yang dilepas juga tidak ikut menjadi sampah di rumah pembeli.

Semat dikumpulkan kembali oleh penjual dan dapat digunakan untuk membungkus lontong berikutnya. Dengan begitu, sebuah potongan lidi kecil tidak langsung berakhir di tempat sampah.

Saya sendiri masih mengingat kebiasaan ini sejak puluhan tahun lalu.

Ketika masih kecil dan diminta orang tua membeli lontong, saya sudah melihat penjual melepaskan semat dari bungkus lontong sebelum memberikannya kepada pembeli.

Dulu mungkin saya tidak pernah berpikir bahwa tindakan kecil itu memiliki makna tentang lingkungan.

Sekarang, setelah melihat semakin banyaknya persoalan sampah, saya baru menyadari bahwa kebiasaan sederhana yang diwariskan orang-orang terdahulu ternyata mengandung kearifan yang luar biasa.

Tidak perlu selalu dengan teknologi yang rumit. Kadang-kadang, menjaga lingkungan bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan kesadaran.

Daun sebagai pembungkus. Semat yang digunakan kembali. Plastik yang dipilih dengan lebih bijak. Semuanya menjadi bagian kecil dari sebuah tradisi kuliner.

Lontong khas Banjarmasin akhirnya bukan hanya soal rasa dan kenyang. Di balik bungkus daunnya, ada cerita tentang bagaimana orang-orang terdahulu belajar hidup secukupnya, menggunakan apa yang tersedia, dan tidak membuang sesuatu begitu saja.

Semoga kearifan lokal seperti ini tidak hilang ditelan zaman.

Mari kita ingat, kita ceritakan, dan kita wariskan kepada generasi berikutnya. Sebab menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa saja dimulai dari selembar daun dan sepotong semat pada sebungkus lontong.*****juna
Lebih baru Lebih lama