Berbagai Kesalahan Pelaku UMKM yang Menghambat untuk Naik Kelas Oleh : Muhammad Junaidi Nasri (MAHAJUNA)

Banjarmasin, Minggu (16/8/2026) - derapjurnalis.com - Kesalahan kecil yang dilakukan sekali mungkin terasa biasa. Namun, jika kesalahan itu terus diulang, lama-lama bisa menjadi kerugian besar. Apalagi bila kesalahan tersebut menyangkut cara melayani pelanggan.

Saya banyak mengamati berbagai kesalahan yang dilakukan pelaku UMKM. Ada yang terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa membuat usaha sulit berkembang. Saya menyebutnya sebagai kesalahan fatal yang dapat menghambat pelaku UMKM untuk naik kelas.

Lalu, apa sebenarnya keuntungan naik kelas bagi pelaku UMKM?

Tentu banyak. Salah satunya adalah meningkatnya pendapatan, bertambahnya pelanggan, usaha semakin berkembang, dan pada akhirnya kehidupan pelaku UMKM menjadi lebih sejahtera.

Pagi ini, Minggu (16/8/2026), saya kembali menemukan sebuah pelajaran menarik dari kejadian sederhana di pasar tradisional Banjarmasin.

Seorang bapak ingin membeli ikan sepat kering. Makanan sederhana yang sudah lama menjadi bagian dari selera masyarakat Banjar.

Ketika tiba di sebuah pasar tradisional, bapak tersebut melihat ikan sepat kering yang dicarinya. Hatinya senang. Terbayang sudah sarapan dengan ikan sepat kering kesukaannya.

Namun, sebelum membeli, ia teringat bahwa di rumah tidak ada beberapa bahan pelengkap. Ia kemudian membeli cabai dan tomat senilai Rp5.000. Penjual melayaninya dengan ramah.

Setelah itu, pandangan bapak tadi tertuju kepada terong dan kacang panjang. Ia pun berminat membeli keduanya dan kembali mengeluarkan uang Rp5.000.
Tetapi kali ini suasananya berubah.
Penjual mengatakan bahwa terong sedang mahal. Bapak tersebut kemudian menjawab dengan sederhana.
"Tidak apa-apa, Bu. Satu saja yang kecil."
Permintaan itu sebenarnya sangat sederhana.
Ia kemudian mendapatkan satu buah terong kecil dan empat batang kacang panjang. Namun, pelayanan yang diterimanya tidak lagi sama. Wajah penjual terlihat cemberut.
Bapak itu terdiam.
Ia membayar Rp5.000, tetapi hatinya tidak lagi nyaman. Bahkan, keinginannya untuk membeli ikan sepat kering akhirnya batal.
Padahal, uangnya masih cukup untuk membeli semangkuk ikan sepat kering.

Di sinilah letak pelajaran pentingnya.
Penjual sebenarnya bukan hanya kehilangan satu transaksi ikan sepat kering. Ia juga kehilangan kesempatan mendapatkan pelanggan yang mungkin akan datang kembali.

Bayangkan jika penjual tetap tersenyum dan melayani dengan ramah.
Bapak tadi kemungkinan besar akan membeli ikan sepat kering. Bahkan bukan tidak mungkin, pada kesempatan berikutnya ia kembali berbelanja di tempat yang sama.

Sebaliknya, pengalaman kurang menyenangkan bisa membuat seorang pelanggan enggan kembali.
Lebih jauh lagi, pelanggan biasanya bercerita kepada keluarga, teman, atau orang-orang di sekitarnya. Cerita tentang pelayanan yang baik bisa mendatangkan pelanggan baru. Begitu pula cerita tentang pelayanan yang kurang menyenangkan bisa membuat orang berpikir ulang untuk datang.

Inilah yang sering kali tidak disadari oleh pelaku UMKM.
Harga boleh bersaing, barang boleh bagus, tetapi keramahan dalam melayani juga merupakan bagian dari modal usaha.

Jangan sampai karena pembeli hanya berbelanja dengan uang Rp5.000 atau Rp10.000, kita memperlakukannya berbeda dengan pembeli yang mengeluarkan uang lebih banyak.

Sebab, kita tidak pernah tahu siapa sebenarnya pelanggan yang sedang berada di hadapan kita.

Hari ini mungkin ia hanya membeli sayur Rp5.000. Besok bisa saja ia menjadi pelanggan tetap. Bahkan mungkin ia yang mengenalkan usaha kita kepada banyak orang.

Karena itu, jangan remehkan pembeli kecil.
Pembeli adalah raja dalam arti bahwa ia layak mendapatkan penghormatan, keramahan, dan pelayanan terbaik.

Sambutlah pelanggan dengan senyum. Layani dengan sabar. Jangan biarkan persoalan harga membuat wajah kita berubah dan membuat pelanggan merasa tidak nyaman.

Pelaku UMKM tidak hanya menjual barang. Mereka juga menjual kepercayaan, kenyamanan, dan pengalaman.

Kalau pelayanan baik, pelanggan pulang membawa barang sekaligus membawa kesan yang baik.
Kalau pelayanan buruk, jangan heran bila pelanggan membawa cerita yang berbeda.

Jadi, mari kita tinggalkan kebiasaan cemberut kepada pembeli yang berbelanja dengan uang seadanya.
Jangan ditiru. Ingat itu.
Berikan pelayanan terbaik kepada setiap pembeli, berapa pun nilai belanjanya.
Insyaallah, dari keramahan kecil itulah pintu rezeki yang lebih besar dapat terbuka.
Dan dari kebiasaan memperlakukan pelanggan dengan baik, pelaku UMKM akan semakin mudah untuk naik kelas dan menjadi lebih sejahtera.*****juna
Lebih baru Lebih lama