Banjarmasin, derapjurnalis.com- Saya terkejut tadi pagi, saat dalam perjalanan menuju walimah keluarga di Banjarmasin, membaca berita tentang meninggalnya Pak Rudy Ariffin. Kabar itu terasa begitu tiba-tiba. Sejenak saya terdiam, mengenang sosok yang bagi saya merupakan salah seorang pemimpin yang sangat ideal.
Pak Rudy adalah tipe pemimpin yang tidak banyak menciptakan jarak. Dengan kesantunan dan kerendahan hatinya, beliau mampu mengayomi berbagai kalangan. Ia dapat diterima bukan hanya oleh kalangan birokrasi dan masyarakat umum, tetapi juga oleh berbagai kelompok keagamaan dan organisasi kemasyarakatan.
Di tengah masyarakat yang memiliki beragam latar belakang, kemampuan seperti ini tentu bukan sesuatu yang sederhana.
Saya memiliki satu pengalaman kecil bersama beliau yang hingga kini masih saya ingat.
Suatu ketika, sekitar Tahun 2013, saya menjadi khatib Jumat di Masjid Al-Jihad Banjarmasin, salah satu masjid Muhammadiyah yang sangat makmur dan memiliki jamaah yang besar. Ketika itu, Masjid Al-Jihad baru saja selesai dibangun dengan dukungan dana bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di masa kepemimpinan Pak Rudy.
Seusai salat Jumat, ternyata Pak Rudy menjadi salah satu jamaah yang ikut shalat jumat di hari itu. Sehabis jumatan, beliau ternyata tidak langsung pulang. Setelah melaksanakan salat ba'diyah Jumat, Pak Rudy menyempatkan diri duduk dan bercengkerama dengan para jamaah. Beliau berbincang santai, mendengarkan berbagai cerita dan aspirasi masyarakat. Saya yang ketika itu menjadi khatib juga berkesempatan berbincang langsung dengan beliau.
Di tengah percakapan itu, Pak Rudy bertanya kira-kira apa lagi yang diperlukan oleh Masjid Al-Jihad?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi bagi saya menunjukkan sesuatu yang penting dari karakter seorang pemimpin. Beliau tidak berhenti pada pemberian bantuan pembangunan. Setelah bangunan selesai, beliau masih ingin mengetahui apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk membuat masjid tersebut lebih bermanfaat bagi jamaah.
Beberapa jamaah kemudian menyampaikan berbagai usulan. Salah satunya adalah pemasangan eskalator menuju lantai dua, terutama untuk memudahkan jamaah perempuan yang sudah lanjut usia.
Pak Rudy merespons dengan tenang. “Nanti dibuatkan surat usulan,” kira-kira demikian pesan beliau. “Insya Allah akan diusahakan bantuannya.”
Tidak lama kemudian, eskalator itu benar-benar terpasang. Jadilah Al-Jihad, satu-satunya masjid di Banjarmasin yang memiliki eskalator saat itu.
Bagi sebagian orang, mungkin eskalator itu hanyalah sebuah fasilitas bangunan. Tetapi bagi saya, ada cerita kepemimpinan dibaliknya. Ada seorang Gubernur yang mau mendengar kebutuhan jamaah. Ada seorang pemimpin yang tidak sekadar datang meresmikan atau memberikan bantuan, tetapi juga menyempatkan diri duduk bersama masyarakat, mendengarkan keluhan mereka, lalu berusaha mencarikan jalan keluarnya.
Disitulah saya melihat sosok Pak Rudy.
Kepemimpinan sesungguhnya tidak selalu terlihat dalam pidato-pidato besar. Kadang ia justru tampak dalam hal-hal sederhana: kesediaan untuk duduk bersama rakyat, mendengarkan tanpa merasa lebih tinggi, dan menindaklanjuti sesuatu yang dianggap kecil oleh orang lain.
Pak Rudy juga memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seorang pemimpin semestinya memperlakukan perbedaan. Masjid Al-Jihad adalah masjid Muhammadiyah. Namun, bagi Pak Rudy, perbedaan organisasi bukan alasan untuk menjaga jarak. Sebagai gubernur, beliau melihat masyarakat sebagai satu kesatuan yang harus dilayani dan diayomi.
Inilah mungkin salah satu alasan mengapa Pak Rudy disegani banyak kalangan.
Disukai dan disegani tentu berbeda. Orang bisa saja disukai karena pandai mengambil hati. Tetapi untuk mendapatkan penghormatan dari berbagai kalangan, seorang pemimpin membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: ketulusan, kesantunan, kemampuan menghargai perbedaan, dan konsistensi dalam berbuat.
Saya kira Pak Rudy memiliki modal itu.
Karena itu, ketika hari ini saya mendengar bahwa proses penyelenggaraan jenazah beliau—memandikan, mengafani, dan mensalatkan—dilaksanakan di Masjid Al-Jihad Banjarmasin, sebelum kemudian dibawa ke Masjid Al-Karamah Martapura, saya merasakan sebuah suasana batin yang sulit dijelaskan.
Masjid Al-Jihad pernah menjadi salah satu tempat beliau berbuat dan meninggalkan kebaikan. Di masjid itulah beliau pernah duduk bersama jamaah, berbincang dengan masyarakat, dan mendengarkan kebutuhan mereka. Kini, masjid yang pernah beliau bantu itu menjadi salah satu tempat untuk melepas kepergian beliau menuju keharibaan Allah SWT.
Barangkali memang demikian cara Allah SWT mempertemukan kembali sebuah kebaikan dengan orang yang pernah menanamkannya.
Sebuah bangunan dapat berdiri karena dana. Tetapi sebuah kenangan baik tumbuh karena ketulusan. Bantuan mungkin tercatat dalam administrasi pemerintahan, tetapi perhatian kepada masyarakat sering kali tersimpan jauh lebih lama di dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakannya.
Saya tidak mengenal Pak Rudy dalam seluruh perjalanan hidupnya. Saya hanya pernah berada dalam ruang yang sangat kecil dari perjalanan kepemimpinannya. Namun, pengalaman singkat itu cukup bagi saya untuk mengenang beliau sebagai pemimpin yang santun, terbuka, dan dekat dengan semua masyarakat.
Dan mungkin justru dari pengalaman-pengalaman kecil semacam itulah masyarakat mengenang seorang pemimpin.
Bukan hanya karena jabatan yang pernah disandangnya. Bukan pula semata-mata karena pembangunan yang pernah dilaksanakannya. Tetapi karena pernah ada seorang pemimpin yang mau mendengar, mau duduk bersama, dan mau membantu tanpa mempertanyakan siapa yang berada di hadapannya.
Pak Rudy telah pergi.
Namun, pemimpin yang baik tidak pernah benar-benar selesai ketika ia meninggalkan dunia. Ia tetap hidup dalam kenangan orang-orang yang pernah disentuh kebaikannya. Ia hidup dalam bangunan yang pernah dibantunya, dalam fasilitas yang masih dimanfaatkan masyarakat, dalam doa orang-orang yang pernah merasakan perhatiannya, dan dalam cerita-cerita sederhana yang terus dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hari ini, mungkin kita tidak lagi dapat berbincang dengan Pak Rudy seperti dulu.
Tetapi kita masih dapat mengirimkan doa.
Semoga seluruh amal baik beliau diterima Allah SWT, segala kekhilafannya diampuni, dilapangkan kuburnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat jalan, Pak Rudy.
Semoga kebaikan yang pernah Bapak tanam di Banua menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Dan semoga Banua selalu melahirkan pemimpin-pemimpin yang bukan hanya kuat dalam kekuasaan, tetapi juga lembut dalam mengayomi; bukan hanya pandai memimpin, tetapi juga bersedia mendengar; bukan hanya dikenang karena jabatannya, tetapi dihormati karena ketulusan dan kebaikannya.
Al-Fatihah.*****
Tags
Headline