Oleh : Sukarni (Dosen UIN Antasari)
Banjarmasin, derapjurnalis.com - Pak Rudy terlibat langsung dalam pengembangan pendidikan tinggi di Kalimantan Selatan. Universitas Islam Negeri Antasari menjadi salah satu bukti nyata kepedulian beliau terhadap kemajuan pendidikan tinggi di Banua.
Ketika rencana dan proses alih status IAIN Antasari menjadi UIN Antasari mulai diperjuangkan, melalui komunikasi Prof. Kamrani Buseri, MA dan Prof. Akh. Fauzi Aseri, MA, dua rektor yang berada pada fase proses dan eksekusi alih status tersebut, Pak Rudy memberikan dukungan penuh.
Dukungan itu bukan sekadar dukungan moral. Beliau mengambil langkah yang sangat konkret.
Salah satu persyaratan penting untuk perubahan status dari institut menjadi universitas ketika itu adalah tersedianya lahan kampus yang memadai.
Untuk sebuah universitas, kebutuhan lahan tentu jauh lebih besar karena bidang keilmuan yang dikembangkan juga semakin luas.
Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah ketersediaan lahan sekitar 50 hektare.
Di sinilah saya melihat keberpihakan Pak Rudy terhadap pendidikan tinggi.
Ketika kebutuhan lahan tersebut dikomunikasikan, Pak Rudy langsung menyetujui penyediaan lahan melalui hibah tanah seluas 50 hektare.
Kebijakan tersebut merupakan keputusan yang sangat strategis.
Dengan tambahan lahan itu, IAIN Antasari ketika itu memiliki aset tanah yang luasnya sekitar 85 hektare, termasuk kawasan kampus lama.
Ketersediaan lahan yang luas tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi penting bagi pengembangan kampus dalam jangka panjang.
Dan akhirnya, ikhtiar panjang itu membuahkan hasil.
Pada tahun 2017, IAIN Antasari secara resmi beralih status menjadi Universitas Islam Negeri Antasari.
Bagi saya, perubahan nama dari “Institut” menjadi “Universitas” bukan sekadar perubahan administratif. Di baliknya terdapat perubahan visi dan cakrawala keilmuan.
Universitas membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan berbagai disiplin ilmu, tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Karena itu, ketika mengenang Pak Rudy hari ini, saya melihat ada bagian dari perjalanan UIN Antasari yang tidak dapat dilepaskan dari kebijakan dan dukungan beliau.
Seorang gubernur tentu memiliki banyak pekerjaan. Ia berhadapan dengan persoalan ekonomi, infrastruktur, kesehatan, kemiskinan, sosial, dan berbagai kebutuhan masyarakat lainnya.
Ditengah begitu banyak persoalan tersebut, masih ada pemimpin yang menyadari bahwa pendidikan tinggi juga harus mendapat perhatian serius.
Sebab pendidikan tinggi bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik.
Universitas adalah tempat ilmu pengetahuan dikembangkan, pemikiran dibentuk, penelitian dilakukan, dan sumber daya manusia dipersiapkan. Dari kampuslah lahir guru, ulama, birokrat, profesional, peneliti, pengusaha, dan berbagai profesi yang akan menentukan arah masa depan masyarakat.
Maka, mendukung pendidikan tinggi sesungguhnya adalah mendukung masa depan daerah.
Pak Rudy tampaknya memahami hal itu.
Hibah tanah 50 hektare mungkin pada saat itu hanya terlihat sebagai sebuah kebijakan pemerintah. Tetapi jika kita melihatnya dari perspektif waktu yang panjang, nilainya jauh lebih besar. Tanah tersebut bukan sekadar aset fisik. Ia menjadi ruang bagi tumbuhnya lembaga pendidikan, ruang bagi ribuan mahasiswa menuntut ilmu, ruang bagi para dosen mengembangkan pengetahuan, dan ruang bagi lahirnya generasi yang kelak mengabdi kepada masyarakat.
Inilah salah satu bentuk kepemimpinan visioner.
Seorang pemimpin yang berpikir jauh ke depan tidak hanya bertanya, “Apa yang dapat kita bangun hari ini?” tetapi juga bertanya, “Apa yang akan dibutuhkan generasi kita dua puluh atau lima puluh tahun yang akan datang?”
Pak Rudy memilih menanam untuk masa depan.
Dan kita sedang menyaksikan sebagian buah dari tanaman itu.
Hari ini UIN Antasari terus berkembang. Kampusnya semakin luas, program studi semakin beragam, mahasiswa datang dari berbagai daerah, dan alumninya telah mengisi berbagai ruang pengabdian di tengah masyarakat.
Setiap kali kita melihat perkembangan itu, mungkin kita tidak selalu mengingat siapa saja yang dahulu ikut membuka jalan.
Padahal sebuah institusi besar tidak lahir secara tiba-tiba. Di belakangnya ada orang-orang yang pernah bermimpi, memperjuangkan, mengambil keputusan, dan memberikan dukungan pada saat yang sangat menentukan.
Pak Rudy adalah salah satu bagian penting dari sejarah tersebut.
Saya membayangkan, ketika keputusan hibah tanah itu dibuat, mungkin tidak pernah terlintas bahwa puluhan tahun kemudian lahan tersebut akan menjadi ruang pendidikan bagi ribuan bahkan puluhan ribu anak Banua. Tetapi memang begitulah karakter investasi pendidikan.
Hasilnya tidak selalu langsung terlihat.
Tanah yang dihibahkan hari ini mungkin baru terasa nilainya ketika sebuah gedung berdiri di atasnya.
Gedung itu kemudian menjadi ruang kuliah. Ruang kuliah melahirkan sarjana. Sarjana kemudian mengabdi di tengah masyarakat.
Dari pengabdian itu lahir manfaat yang terus berkembang.
Satu keputusan dapat melahirkan mata rantai kebaikan yang panjang.
Dalam ajaran Islam, ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal yang pahalanya terus mengalir. Karena itu, saya membayangkan bahwa dukungan Pak Rudy terhadap pendidikan tinggi tidak berhenti pada masa pemerintahannya.
Selama ilmu terus diajarkan, selama mahasiswa terus belajar, dan selama alumni UIN Antasari mengabdikan ilmunya kepada masyarakat, selama itu pula kebaikan dari sebuah kebijakan pendidikan dapat terus dikenang.
Hari ini Pak Rudy telah berpulang.
Tetapi jejaknya masih ada.
Ia ada dalam berbagai kebijakan pembangunan yang pernah beliau lahirkan. Ia ada dalam lembaga pendidikan yang pernah beliau dukung. Ia ada dalam anak-anak Banua yang memperoleh kesempatan belajar.
Dan salah satunya, bagi saya, ada dalam perjalanan panjang UIN Antasari.
Karena itu, mengenang Pak Rudy tidak cukup hanya dengan mengingat masa jabatannya sebagai gubernur. Kita juga perlu mengingat visi yang pernah beliau tanamkan.
Bahwa membangun Banua tidak cukup hanya dengan membangun fisiknya. Banua juga harus dibangun manusianya.
Dan salah satu jalan terpenting untuk membangun manusia adalah pendidikan.
Selamat jalan, Pak Rudy Ariffin.
Terima kasih atas perhatian dan kepedulian Bapak terhadap pendidikan tinggi di Kalimantan Selatan.
Semoga tanah yang pernah Bapak hibahkan untuk pendidikan, ilmu yang tumbuh di atasnya, mahasiswa yang belajar di dalamnya, para dosen yang mengajarkan ilmu, dan para alumni yang mengabdi kepada masyarakat menjadi bagian dari amal jariah yang terus mengalir untuk Bapak.
Barangkali Bapak telah meninggalkan dunia, tetapi sebagian dari cita-cita Bapak masih terus tumbuh di Banua.
Tanah yang Bapak berikan telah menjadi ruang ilmu. Dan ilmu, sebagaimana kita yakini, tidak pernah benar-benar mati. Ia akan terus hidup selama manusia belajar, mengajarkan, dan mengamalkannya.
Al-Fatihah.
Tags
Headline