Yogyakarta, derapjurnalis.com
Upaya membentuk generasi Qurani sejak usia sekolah dasar dinilai semakin mendesak di tengah tantangan era modern. Kebiasaan beribadah dan pembinaan akhlak mulia menjadi fondasi penting agar anak tidak hanya tumbuh cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan moral.
Dosen Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Nur Hidayat, M.Ag, menegaskan, pembiasaan ibadah sejak dini memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter anak.
Menurutnya, anak yang dibiasakan dekat dengan Al-Qur’an dan ibadah akan lebih mudah diarahkan pada perilaku positif.
“Generasi Qurani bukan hanya tentang kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an tercermin dalam sikap, perilaku, dan akhlak anak dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Dr. Nur Hidayat, M.Ag.
Ia menjelaskan, ibadah seperti salat, membaca Al-Qur’an, dan doa harian bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana pembentukan disiplin, kesabaran, dan tanggung jawab. Anak yang terbiasa menjalankan ibadah dengan bimbingan yang tepat cenderung memiliki kontrol diri yang lebih baik serta sikap hormat terhadap orang lain.
Menurut Dr. Nur Hidayat, tantangan terbesar saat ini adalah konsistensi pembiasaan ibadah di tengah derasnya pengaruh digital. Karena itu, peran sekolah dan keluarga harus berjalan beriringan. Sekolah berfungsi sebagai penguat nilai, sementara keluarga menjadi lingkungan utama yang menanamkan kebiasaan tersebut.
“Jika Sekolah dan Keluarga sejalan dalam menanamkan nilai ibadah, maka anak akan tumbuh dengan karakter yang kokoh. Pendidikan akhlak tidak cukup diajarkan, tetapi harus dicontohkan dan dibiasakan,” tegasnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pengalaman Viona Zulfa Salsabila, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang menilai, pembiasaan ibadah pada anak perlu dikemas secara menyenangkan dan kontekstual. Menurutnya, anak-anak akan lebih mudah mencintai ibadah jika tidak merasa terpaksa.
“Anak-anak perlu dikenalkan ibadah dengan pendekatan yang ramah dan sesuai dunia mereka. Ketika ibadah menjadi kebiasaan yang menyenangkan, nilai akhlak akan tumbuh secara alami,” ujar Viona.
Ia menambahkan, keteladanan guru dan orang tua memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter religius anak. Anak cenderung meniru apa yang mereka lihat, sehingga sikap konsisten dari orang dewasa menjadi kunci keberhasilan pembinaan generasi Qurani.
Para Pendidik sepakat, membangun generasi Qurani merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Anak yang gemar beribadah dan berakhlak mulia diharapkan mampu menjadi pribadi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan tanggung jawab sosial.
Ditengah kompleksitas tantangan zaman, penguatan nilai Qurani sejak dini menjadi salah satu ikhtiar penting untuk menjaga arah pendidikan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.*
Dosen : Dr. Nur Hidayat M.Ag
Mahasiswa : Viona Zulfa Salsabil S.Pd

