UNUKASE Gelar Diskusi Pengembangan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama



Banjarmasin, derapjurnalis.com– Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE) menggelar diskusi pengembangan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Gedung Serbaguna UNUKASE, Jumat (22/05/2026).


Rektor UNUKASE, Dr. Ir. H. Abrani Sulaiman, M.Sc., menyambut hangat kehadiran Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), Dr.rer.pol. M. Faishal Aminuddin, S.S., M.Si., serta Sekretaris Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama, Dr. Abu Amar Bustomi, M.Si.

Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pejabat struktural Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan, di antaranya Wakil Rektor I Dr. H. Jarkawi, M.M.Pd., Wakil Rektor III Dr. Ir. Murjani, S.P., S.I.Kom., S.T., M.S., IPM., para dekan, kepala biro, serta kepala bagian di lingkungan UNUKASE.

Dalam sambutannya, Rektor UNUKASE Dr. Ir. H. Abrani Sulaiman, M.Sc., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pimpinan LPTNU yang telah memberikan perhatian terhadap pengembangan perguruan tinggi, khususnya UNUKASE. Ia menilai kegiatan ini menjadi kesempatan penting untuk berbagi wawasan dan strategi dalam pengembangan institusi pendidikan tinggi.

“Terima kasih kepada pimpinan LPTNU yang telah memberikan perhatian kepada perguruan tinggi, khususnya UNUKASE, sehingga kami berkesempatan menerima sharing ilmu pengembangan perguruan tinggi dengan menghadirkan pemateri Dr. Abu Amar Bustomi, M.Si.,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Abu Amar Bustomi, M.Si., menegaskan bahwa di tengah tantangan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, pengembangan perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik atau rutinitas administratif. Perguruan tinggi dituntut memiliki daya tahan, identitas, dan kemampuan beradaptasi agar mampu bertahan sekaligus tumbuh di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, transformasi kampus harus dimulai dari pembangunan visi besar dan keberanian melakukan perubahan secara terukur. Kampus yang kuat bukan hanya memiliki gedung megah, tetapi mampu menghadirkan makna, harapan, dan solusi nyata bagi masyarakat.

“Perguruan tinggi hari ini tidak cukup hanya menjual ijazah. Kampus harus hadir sebagai pusat solusi, pusat inovasi, dan pusat penggerak masyarakat,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan kampus berkembang adalah memastikan stabilitas cashflow dan kesehatan institusi sebelum mengejar prestise semu. Oleh karena itu, diversifikasi sumber pendapatan dinilai penting melalui penguatan unit usaha, pelatihan, pusat riset, layanan digital, hingga kolaborasi strategis dengan berbagai pihak.

Selain itu, penguatan sumber daya manusia juga menjadi kunci utama percepatan pengembangan kampus. Menurutnya, institusi tidak membutuhkan terlalu banyak orang pasif, melainkan tim inti yang militan, kreatif, loyal terhadap visi, dan mampu bergerak cepat menghadapi tantangan.

Dalam menghadapi keterbatasan, kampus juga didorong menggunakan strategi “low cost–high impact” melalui pemanfaatan media digital, penguatan branding, webinar nasional, podcast edukatif, hingga promosi berbasis kecerdasan buatan (AI). Strategi tersebut dinilai mampu meningkatkan daya jangkau dan reputasi kampus tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Mahasiswa juga perlu diposisikan bukan hanya sebagai penerima layanan pendidikan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem gerakan kampus. Keterlibatan mahasiswa dalam media, inovasi, bisnis kampus, pengabdian masyarakat, dan pengembangan startup diyakini dapat memperkuat loyalitas sekaligus daya tahan institusi.

Menurut Bustomi, Perguruan Tinggi yang akan bertahan di masa depan adalah kampus yang mampu menjadi “problem solver” bagi masyarakat, mulai dari pemberdayaan UMKM, digitalisasi desa dan pesantren, hingga pengembangan inovasi sosial berbasis kebutuhan masyarakat.

Ia juga menegaskan bahwa krisis tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman, melainkan momentum untuk melakukan konsolidasi, efisiensi, reformasi budaya kerja, dan memperjelas arah perjuangan institusi.

“Kampus kecil tidak boleh berpikir kecil. Yang bertahan hari ini bukan semata yang paling kaya, tetapi yang paling adaptif, paling relevan, dan paling memiliki identitas,” pungkasnya.

(Humas UNUKASE/MPD)

Lebih baru Lebih lama