Momentum 12 Rabiul Awal: Maulid Nabi Muhammad SAW dalam Tradisi Religius Masyarakat Kalimantan Selatan

Banjarmasin, derapjurnalis.com- Peringatan 12 Rabiul Awal, Maulid Nabi Muhammad SAW, bagi umat Islam di Kalimantan Selatan bukan sekadar peringatan kalender keagamaan. Maulid telah menjadi ruang spiritual, sosial, dan kebudayaan yang mempertemukan kecintaan kepada Rasulullah SAW dengan kuatnya tradisi keberagamaan masyarakat Banua. 

Ketua Umum DPW IAEI Kalimantan Selatan Prof Dr Ahmad Yunani SE MSi mengatakan, dari masjid dan langgar, majelis taklim, pesantren, rumah-rumah warga hingga lingkungan perkantoran dan lembaga pendidikan, bulan Rabiul Awal terasa hidup dengan lantunan shalawat, pembacaan syair maulid, pengajian, silaturahmi, serta tradisi berbagi makanan.


Maulid sebagai Ekspresi Mahabbah kepada Rasulullah SAW

Prof Dr Ahmad Yunani SE MSi yang juga 
selaku Ketua Dewan Penasehat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Kalsel 
menambahkan, hakikat utama peringatan Maulid adalah mahabbah—kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. 
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab: 21).

"Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah hendaknya tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi diterjemahkan menjadi keinginan untuk mengenal, meneladani, dan menghidupkan akhlak Beliau," Yunani menegaskan,

Tradisi masyarakat Kalimantan Selatan yang membaca syair-syair maulid dan shalawat memiliki makna yang mendalam. 

"Lantunan pujian kepada Rasulullah membangun suasana batin yang mengingatkan umat terhadap perjalanan hidup, perjuangan, kasih sayang, kesabaran, dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW," kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ULM Banjarmasin tersebut.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).

Dengan demikian, gema shalawat yang memenuhi masjid, langgar, majelis, dan rumah-rumah masyarakat Banua, hendaknya menjadi jalan untuk semakin mendekatkan hati kepada Allah SWT sekaligus memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Maulid sebagai Momentum Silaturahmi dan Persatuan

Ada keindahan tersendiri dalam tradisi Maulid di Kalimantan Selatan. Warga datang bersama-sama, duduk dalam satu majelis, membaca shalawat, mendengarkan ceramah, berdoa dan kemudian menikmati hidangan bersama. Orang tua bertemu dengan anak muda, ulama bersama masyarakat, tetangga saling berkunjung, bahkan mereka yang jarang bertemu kembali dipertemukan melalui majelis Maulid.

Inilah modal sosial keagamaan masyarakat Banua yang sangat berharga.
Maulid menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, sekaligus persaudaraan kemanusiaan. Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, tradisi berkumpul dalam majelis Maulid mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Kita membutuhkan tetangga, keluarga, sahabat dan masyarakat.

Karena itu, Maulid dapat menjadi momentum “merapatkan yang renggang, mendekatkan yang jauh, mendamaikan yang berbeda, dan menguatkan yang lemah.”

Jamuan Maulid sebagai Budaya Saling Memuliakan

Tradisi menyediakan makanan dan jamuan dalam peringatan Maulid juga memiliki nilai sosial yang kuat. Masyarakat mempersiapkan hidangan sesuai kemampuan masing-masing, kemudian menyambut tamu dengan penuh kegembiraan.

Yang terpenting bukanlah mahal atau sederhananya makanan, tetapi keikhlasan berbagi dan semangat memuliakan sesama.

Di sinilah Maulid mengajarkan bahwa keberagamaan tidak hanya bersifat vertikal antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga horizontal antara manusia dengan manusia.

Mereka yang memiliki kelebihan berbagi kepada yang membutuhkan. Yang mampu membantu yang kurang mampu. Yang memiliki makanan berbagi kepada tetangga. Yang memiliki ilmu membagikan pengetahuan. Yang memiliki kedudukan menggunakan kewenangannya untuk kemaslahatan masyarakat.
Dengan demikian, tradisi jamuan Maulid dapat dimaknai lebih luas sebagai gerakan sedekah, kepedulian sosial dan pemerataan kebahagiaan.

Ceramah Maulid Harus Membawa Pesan Perubahan

Ceramah dan penyampaian hikmah Maulid hendaknya tidak hanya menceritakan sejarah kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menghubungkan keteladanan beliau dengan persoalan kehidupan masyarakat sekarang.

Bagaimana Rasulullah mengajarkan kejujuran dalam perdagangan, amanah dalam kepemimpinan, kasih sayang dalam keluarga, kepedulian terhadap fakir miskin, perlindungan terhadap anak yatim, penghormatan kepada orang tua, menjaga persaudaraan, serta larangan berbuat kerusakan di muka bumi.

Karena itu, Maulid harus melahirkan perubahan :
dari sekadar membaca sejarah Nabi menjadi meneladani Nabi;
dari sekadar melantunkan shalawat menjadi memperbaiki akhlak;
dari sekadar berkumpul menjadi mempererat persaudaraan;
dari sekadar menyediakan jamuan menjadi membangun kepedulian;
dan dari sekadar memperingati kelahiran Rasulullah menjadi menghidupkan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Maulid dan Muhasabah di Tengah Musim Kemarau

Peringatan Maulid tahun ini juga dapat dijadikan momentum muhasabah, terutama ketika sebagian wilayah menghadapi musim kemarau, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, serta berbagai persoalan lingkungan.

Islam mengajarkan manusia untuk membaca setiap keadaan sebagai kesempatan melakukan introspeksi sekaligus memperbaiki ikhtiar.

Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik...”
(QS. Al-A'raf: 56).

Karena itu, menghadapi musim kemarau tidak cukup hanya dengan berdoa. Doa harus disertai ikhtiar. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, ulama, akademisi dan seluruh elemen Banua perlu bersama-sama menjaga sumber air, tidak membakar lahan sembarangan, menjaga hutan dan rawa, membersihkan lingkungan serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran.

Majelis Maulid bahkan dapat menjadi ruang pendidikan lingkungan: mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari amanah kekhalifahan manusia di bumi.

Pada saat yang sama, kemarau menjadi momentum memperbanyak istighfar, doa dan memohon rahmat Allah SWT. Apabila kekeringan telah menimbulkan kebutuhan terhadap hujan, umat Islam juga mengenal shalat Istisqa, sebagai bentuk kerendahan hati manusia memohon diturunkannya hujan, seraya tetap melakukan ikhtiar nyata menjaga lingkungan dan sumber daya air.

Dari Kesalehan Ritual Menuju Kesalehan Sosial

Masyarakat Kalimantan Selatan dikenal memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Majelis taklim tumbuh di berbagai tempat, masjid dan langgar menjadi pusat kehidupan masyarakat, sementara tradisi Maulid telah diwariskan lintas generasi.
Modal religiusitas tersebut merupakan kekuatan besar apabila diterjemahkan menjadi kesalehan sosial.

Cinta Rasulullah seharusnya terlihat dari semakin jujurnya pedagang, semakin amanahnya pemimpin, semakin santunnya masyarakat, semakin pedulinya orang kaya kepada fakir miskin, semakin hormatnya anak kepada orang tua dan guru, serta semakin kuatnya kepedulian terhadap lingkungan.

Inilah substansi yang perlu terus diperkuat.

Maulid bukan hanya tentang bagaimana kita bergembira atas kelahiran Rasulullah SAW, tetapi bagaimana kehadiran Rasulullah terus hidup dalam akhlak kita.

Maulid untuk Banua yang Damai dan Penuh Berkah

Momentum 12 Rabiul Awal hendaknya menjadi kesempatan bagi masyarakat Kalimantan Selatan untuk memperkuat identitas Banua sebagai masyarakat yang religius, rukun, ramah, saling menghormati dan gemar bergotong royong.
Biarlah shalawat bergema dari masjid, langgar, pesantren, majelis dan rumah-rumah masyarakat. Biarlah makanan yang dihidangkan menjadi jalan sedekah. Biarlah pertemuan menjadi jalan silaturahmi. Biarlah ceramah menjadi sumber ilmu. Biarlah doa menjadi penguat harapan. Dan biarlah musim kemarau menjadi momentum muhasabah untuk semakin menjaga alam serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan peringatan Maulid bukan semata-mata seberapa banyak majelis yang kita hadiri atau seberapa meriah acara yang diselenggarakan, tetapi seberapa jauh setelah Maulid akhlak kita menjadi lebih baik, persaudaraan semakin kuat, kepedulian kepada sesama semakin besar, dan hubungan dengan Allah SWT semakin dekat.

Mari jadikan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum memperkuat mahabbah kepada Rasulullah, memperbanyak shalawat, mempererat silaturahmi, memuliakan sesama, membantu mereka yang membutuhkan, menjaga alam Banua, serta melakukan muhasabah untuk kehidupan yang lebih baik.

Semoga melalui keberkahan bulan Rabiul Awal, Allah SWT melimpahkan rahmat kepada Kalimantan Selatan, menjaga Banua dari kekeringan, kebakaran, bencana dan berbagai kesulitan, menurunkan hujan yang membawa manfaat, memberikan keberkahan pada tanah dan airnya, serta menjadikan masyarakatnya hidup rukun, damai, sejahtera dan senantiasa berada dalam kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.*****
Lebih baru Lebih lama