Teh dan Kopi yang Tidak Berubah Rasa Oleh : Muhammad Junaidi Nasri (MAHAJUNA)

Banjarmasin, Rabu (19/8/2026), derapjurnalis.com - Ada pengalaman sederhana saat menikmati teh dan kopi yang membuat saya penasaran. 

Namanya juga kebiasaan sehari-hari, kadang sesuatu yang terlihat biasa justru menyimpan pertanyaan yang menarik.

Di atas sendok ada teh celup. Ketika teh celup itu dimasukkan ke dalam cangkir berisi air panas, atau bahkan air es, kami di Banjarmasin menyebutnya “induteh”. Entah bagaimana penyebutannya dalam bahasa Indonesia atau di daerah lain. 

Mungkin setiap daerah mempunyai istilahnya masing-masing.
Suatu sore saya hendak minum teh yang masih tersisa di dalam cangkir. Cangkir tersebut dalam keadaan tertutup. Saya sempat heran, ternyata rasanya belum berubah dan tidak terasa basi.

Setelah saya ingat-ingat, ternyata sejak pagi masih ada induteh, atau kantong teh celup, yang tertinggal di dalam cangkir. Saya lupa membuangnya setelah membuat teh.

Di sinilah muncul pertanyaan saya: apakah teh celup yang masih berada di dalam cangkir membuat teh menjadi lebih awet?
Setelah saya pelajari, ternyata bukan begitu. Keberadaan kantong teh celup tidak dapat dianggap sebagai pengawet teh. 

Memang, daun teh mengandung berbagai senyawa seperti polifenol dan tanin yang memiliki aktivitas antioksidan dan dalam kondisi tertentu dapat menghambat sebagian mikroorganisme. 

Namun, jumlah dan kondisi senyawa tersebut tidak cukup untuk menjadikan teh yang sudah diseduh aman disimpan berjam-jam pada suhu ruang.

Kemungkinan yang lebih besar adalah faktor lain yang membuat teh saya saat itu belum menunjukkan perubahan rasa yang berarti. 

Cangkir dalam keadaan tertutup sehingga mengurangi masuknya debu dan kontaminan dari lingkungan. 

Selain itu, kondisi air, kebersihan cangkir, konsentrasi teh, serta suhu penyimpanan juga ikut berpengaruh.
Jadi, induteh bukan “pengawet alami” yang membuat teh tahan basi. 

Bahkan, membiarkan kantong teh terlalu lama di dalam minuman dapat membuat rasa teh semakin pekat, sepat atau pahit karena lebih banyak senyawa dari daun teh yang larut.

Pengalaman saya dengan kopi ternyata lebih menarik lagi.

Kopi yang dibuat pagi hari pernah saya minum sampai malam dan rasanya masih cukup baik. 

Bahkan, kopi yang saya simpan di dalam kulkas selama beberapa hari justru terasa lebih enak ketika diminum dalam keadaan dingin.

Mengapa bisa begitu?
Jawabannya lebih mudah dijelaskan. 

Suhu dingin memperlambat berbagai reaksi kimia dan pertumbuhan mikroorganisme. 

Karena itu, kopi yang segera disimpan dalam wadah bersih dan tertutup di dalam kulkas dapat bertahan lebih lama dibandingkan kopi yang dibiarkan pada suhu ruang.
Kopi yang dingin juga mempunyai karakter rasa yang berbeda. 

Aroma, tingkat keasaman, kepahitan, dan sensasi di lidah dapat terasa berbeda ketika suhu minuman berubah. 

Karena itu, ada orang yang justru lebih menyukai kopi dingin atau kopi yang sudah didinginkan beberapa waktu.

Tetapi ada satu hal penting: kulkas bukan alat untuk mensterilkan kopi. Kulkas hanya memperlambat pertumbuhan mikroorganisme dan proses perubahan kualitas. 

Kopi yang sudah dibuat tetap sebaiknya disimpan dalam wadah bersih dan tertutup, serta tidak dibiarkan terlalu lama.

Begitu pula dengan teh.
Kalau teh atau kopi sudah diseduh sejak pagi, jangan hanya mengandalkan rasa dan aroma untuk menentukan apakah minuman tersebut masih aman diminum. 

Mikroorganisme yang menyebabkan kerusakan tidak selalu langsung membuat minuman berubah bau atau rasa.

Untuk penyimpanan, lebih aman memasukkan teh atau kopi ke dalam wadah bersih dan tertutup, kemudian segera mendinginkannya apabila memang ingin disimpan. 

Jangan pula memasukkan minuman yang masih panas ke dalam wadah tertutup rapat lalu langsung dimasukkan ke kulkas dalam kondisi yang tidak tepat. 

Berikan perhatian pada kebersihan wadah dan cara penyimpanannya.

Dari pengalaman sederhana tentang induteh dan kopi dingin, saya akhirnya mendapatkan satu pelajaran kecil.

Kadang-kadang kita melihat sesuatu hanya dari apa yang terasa di lidah. 

Padahal, di balik rasa yang tetap enak itu ada banyak faktor: suhu, kebersihan, udara, waktu, bahan minuman, hingga mikroorganisme yang tidak terlihat oleh mata.

Jadi, kalau teh saya tetap terasa enak sampai sore karena lupa membuang induteh, ternyata jawabannya bukan karena induteh membuat teh menjadi awet.

Dan kalau kopi dari kulkas terasa lebih nikmat, bukan berarti semakin lama disimpan semakin baik.

Minuman juga mempunyai batas waktu. Lidah boleh berkata “masih enak”, tetapi soal keamanan, kebersihan dan cara penyimpanan tetap harus menjadi pertimbangan utama.

Sebuah pengalaman kecil di meja makan pun akhirnya menjadi bahan belajar. Dari secangkir teh dan segelas kopi, ternyata banyak hal yang bisa kita renungkan.*****juna
Lebih baru Lebih lama