Banjarmasin, derapjurnalis.com
(Ambin Demokrasi)
Dangsanak, ada ungkapan Banjar yang sangat populer, “tabuati jukung miris”. Awalnya bermakna, ikut serta pada orang yang sudah banyak memiliki masalah. Dengan masalah yang banyak tersebut, sebenarnya menanggung dan membawa diri sendiri saja ia hampir tidak mampu, apalagi ditambah menanggung orang lain.
Ikut serta “bapiruhut” kepada orang yang memiliki masalah, namun tidak mampu membantu meringankannya, disindir kebudayaan Banjar dengan paribahasa, tabuati jukung miris. Kalau tidak punya kemampuan, alamat akan turut tenggelam, bahkan mempercepat proses tenggelamnya jukung.
Bayangkan, kalau semua yang ikut serta pada jukung bukan saja tidak mampu dan tidak mau membantu menambal atau sekedar menimba air yang masuk pada jukung. Sebaliknya justru turut serta menambah miris dan hanya berpangku tangan, maka semakin cepat tenggelam jukung tersebut.
Dangsanak, kalau mau dicermati, bukankah negeri ini dan pemerintahannya laksana jukung miris? Miris karena hutang yang semakin menumpuk, ekonomi yang begitu rapuh, pangan dan segalai kebutuhan pokok yang tergantung pada import, kualitas air yang terus merosot karena sampah dan krisis ekologi, dan tata kelola energi yang boncos, karena ditangani secara abal-abal.
Aparat dan pengelola negara yang diberi kepercayaan menjaga dan memelihara jukung agar tetap dapat berlabuh, bukannya memperbaiki keadaan jukung yang sudah miris, malah turut serta menambah miris.
Korupsi, penyalahgunaan wewenang dan jabatan, maladministrasi, tidak amanah, tidak profesional, gemar berlaku kolusi dan nepotisme, bergaya hedonis dengan uang rakyat, semua itu bagian dari tindakan menambah miris keadaan jukung. Belum lagi ketiadaan visi tentang bagaimana dan mau dibawa kemana jukung ini berlabuh.
Mungkinkah jukung yang miris dan semakin miris tersebut mampu membawa penumpang lainnya? Mustahil. Bukan keselamatan dan kebahagiaan yang dijanjikan, malah kesengsaraan dan ancaman risiko tenggelam bersama.
Apalagi yang diajak turut serta tersebut bukannya dimotivasi berpartisipasi menambal, menimba atau menyelesaikan kebocoran jukung, sebaliknya justru dipalak, dimintai tarif tinggi, minus fasilitas dan keselamatannya tidak pernah dijamin.
Bukankah rakyat sekarang merasa seperti itu? Bukannya diberi semangat dan harapan dengan segala kepastian dan komitmen, malah dibebani berbagai pajak, iuran, distribusi dan bahkan segala rupa pungutan yang tinggi, tanpa ada jaminan fasilitas yang baik, pelayanan berkualitas, atau tata kelola pemerintahan yang bersih dan bermartabat.
Dangsanak, karena tabuati jukung miris, agar selamat, minimal pastikan bisa berenang dan mampu menyelamatkan diri secara mandiri. Situasi seperti ini, di tengah keadaan geopolitik dan ekonomi global yang tidak menentu, tidak ada yang tahu satu waktu jukung tiba-tiba tenggelam.
Kalau kebetulan punya kelebihan, ada baiknya siapkan pelambung ala kadarnya, minimal antisipasi kalau pertolongan datang terlambat, atau bahkan tidak datang sama sekali, karena ternyata jukung lainnya pun sama mirisnya.*****
Tags
Headline